1. 1.      Pengertian Pencegahan Sekunder

Tingkat pencegahan sekunder merupakan upaya manusia untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit, menghindarkan komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan. Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).

Pencegahan sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaring. Hanya saja pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Pengobatan penyakit sejak awal harus segera dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyakit menahun.

  1. 2.      Tujuan Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakaukan pada fase awal patogenik yang bertujuan untuk :

  1. Mendeteksi dan melakukan interfensi segera guna menghentikan penyakit pada tahap ini
  2. Mencegah penyebaran penyakit menurunkan intensitas penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular
  3. Untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
  1. 3.      Upaya Pencegahan Sekunder

Dalam proses pencegahan penyakit secara sekunder, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah suatu penyakit. Upaya tersebut yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early diagnosis and prompt treatment) sehingga akan mengurangi keparahan kondisi dan memungkinkan klien kembali pada kondisi kesehatan yang normal sedini mungkin. Dapat dilakukan dengan cara :
  • Mencari kasus sedini mungkin.
  • Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya pemeriksaan darah, rontgent paru, general ceck up pada setiap individu.
  • Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.
  • Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.
  • Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus.
  • Melakukan berbagai survey (survey sekolah, rumah tangga) & pemberantasan penyakit menular
  1. Pencegahan komplikasi sebagian besar dilakukan di RS atau tempat pelayanan kesehatan lain yang memiliki fasilitas memadai.
  2. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)
  • Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi komplikasi.
  • Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.
  • Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif.
  1. Melakukan teknik skrining

Pengertian skrining untuk pengendalian penyakit adalah pemeriksaan orang – orang asimtomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau diperkirakan tidak mengidap penyakit yang menjadi obyek skrining.

Contoh uji skrining anatara lain yaitu pemeriksaan rongent, pemeriksaan sitologi, dan pemeriksaan tekanan darah. Uji skrining tidak bersifat diagnostic. Orang – orang dengan temuan positif atau mencurigakan harus dirujuk ke dokter untuk diagnostic dan pengobatannya.

Tujuan skrining adalah untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus – kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan pengobatan dini hampir selalu diarahakan kepada penyakit tidak menular, seperti kanker, dibetes mellitus, glaucoma ,dll. Dalam skala tingkatan prevensi penyakit deteksi dan pengobatan dini ini termasuk dalam tingkat prevnsi sekunder.

Semua skrining dengan sasaran pengobatan dini ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi orang – orang asimtomatik yang beresiko mengidap gangguan kesehatan serius dalam konteks ini, penyakit adalah setiap karakteristik anatomi (misalnya kanker atau arteriosklerosis), fisiologi (misal, hipertensi atau hiperlipidemia), atau perilaku (kebiasaan merokok) yang berkaitan engan peningkatan gangguan kesehatan yang serius ataupun kematian.

  • Cara melakukan skrining :

Sebelem melakukan skrining, terlebih dahulu harus ditentukan penyakit atau kondisi medis apa yang akan dicari pada skrining. Criteria untuk menentukan kondisi medis yang akan di cari adalah :

  1. Efektifitas pengobatan yang akan diberiak apabila hasil skrining positif.
  2. Beban penderitaan yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut.
  3. Akurasi uji skrining.

Setelah menetukan kondisi medis yang akan dicari, uji skrining dapat dilaksanakan dalam bentuk:

  1. Pertanyaan anamnesis, misal apakah anda merokok ?
  2. Bagian pemeriksaan fisik, misal pemeriksaan fisik payudara.
  3. Prosedur, misal sigmoidoskopi.
  4. Uji laboratorium, misal pemeriksaan Ht.
  • Kriteria bagi uji skrining yang baik menyangkut antara lain:
  1. Sensitifitas dan spesifisitas.
  2. Sederhana dan biaya murah.
  3. Aman.
  4. Dapat diterima oleh pasien dan klinikus.
  • Efek Skrining

Jika pengobatan dini tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit, usia saat terjadiny stadium lanjut penyakit atau kematiaan tidak akan berubah walaupun ada perolehan lead time, yaitu periode dari saat deteksi penyakit (dengan skrining) sampai dengan saat diagnosis seharusnya dibuat jika tidak ada skrining.

  1. 4.      Contoh Kasus Pencegahan Sekunder Pada Penyakit Diabetes Mellitus

Tujuan utama kegiatan – kegiatan pencegahan sekunder  seperti penapisan adalah untuk mengidentifikasi orang – orang tanpa gejala yang telah sakit atau yang jelas berisiko tinggi untuk menggembangkan penyakit, dan dibagian mana intervensi bisa memberi manfaat. Karakteristik yang amat diperlukan program – program seperti itu diperlihatkan. Penggabungan penapisan untuk diabetes dan penapisan untuk penyakit – penyakit tidak menular lain yang dianjurkan dalam program WHO INTERHEALTH sering bermanfaat.

  1. a.      Penapisan terhadap diabetes mellitus tak tegantung insulin

Pertanyaan tentang penapisan NIDDM pada masyarakat luas masih kontroversial. Filosofi yang melatarbelakangi adalah pendeteksian diabetes pada orang – orang yang tidak atau sedikit sekali menampakkan gejala akan menghasilkan pengobatan efektif yang bias memperlambat gerak maju penyakit serta menyusutkan risiko atau keparahan penyulit, sehingga menurunkan kesakitan dan kematian dini. Ini menjadi fokus bahasan karena sering adannya penyulit – penyulit khas pada saat diagnosis klinis ditegakkan serta perkiraan bahwa rata – rata subjek telah mengalami NIDDM selama 4 – 7 tahun sebelum diagnosis.

Selama bertahun – tahun pendapat tentang nilai penapisan masyarakat sering berubah – ubah. Pada mulanya pendapat tersebut dianjurkan secara luas. Tetapii, lokakarya tentang penapisan diabetes yang diselenggarakan di Atlanta, Georgia tahun 1978, membalik kecenderungan ini. Kesepakatan pada waktu itu adalah bahwa penapisan untuk menentukan diabetes jangan dianjurkan, kecuali pada kehamilan, karena bukti kemanfaatan tidak melebihi bukti pengaruh – pengaruh buruknya, dan biaya penapisan tidak dibenarkan. Posisi ini masih dipegang oleh banyak orang.

Namun, program – program penapisan epidemiologi yang dirancang dengan baik dapat, menyediakan informasi yang bernilai tentang diabetes dan IGT serta riwayatnya pada masyarakat yang berbeda. Data – data tersebut penting bagi perencanaan kesehatan masyarakat serta menyediakan informasi untuk mengevaluasi terus kriteria diagnostik terkini. Program – program penapisan juga bisa memperbaiki kewaspadaan masyarakat dan membuka jalan bagi pendidikan mengenai diabetes. Ada tiga pendekatan penapisan yang berbeda –  masyarakat.

Hasil positif dalam uji penapisan hanya menunjukkan besarnya kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit. Uji konfirmasi biasanya diperlukan pada kasus diagnosis perorangan.

Pertimbangan penting dalam merancang program penapisan yang tepat meliputi:

  • Sensitivitas, spesifitas, dan nilai prediktif uji penapisan
  • Biaya – keefektifan dan kebutuhan akan sumber daya metodologi penapisan tersebut serta tindak lanjut ( follow – up ) yang perlu dalam konteks perkiraan angka deteksi positif
  • Definisi populasi target yang ditapis
  • Ketentuan tindak lanjut dan perawatan yang adekuat dan efektif bagi orang – orang yang mempunyai hasil uji positif.

Ada juga potensi negatif penapisan:

  • Stres psikologis, kemudharatan social – ekonomi serta biaya – biaya tambahan yang diakibatkan oleh hasil uji positif salah ( false – positive )
  • Kepastian salah tentang hasil uji negatif salah ( false – negative )
  • Penyulit – penyulit medik akibat uji penapisan
  • Penyulit – penyulit medik akibat intervensi orang – orang yang terdignosis sebagai menderita diabetes.

Penjelasan serta tata cara yang tepat harus digabungkan dengan rancangan program dan protokol penapisan untuk meminimalkan pengaruh negatif serta menemukannya bila hal – hal tersebut terjadi.

Harus ditekankan bahwa penapisan hanya berfaedah bila intervensi yang efektif dapat diperkenalkan untuk menurunkan beban penyakit yang telah ada atau mencegah berkembangnya diabetes. Ilmu pengetahuan kini mengesankan bahwa tidak ada bukti pasti mengenai nilai penapisan, meskipun penggunaannya terus bertambah. Pendekatan terhadap penapisan yang digunakan tergantung pada:

  1. Ketersediaan sumber daya
  2. Beban penyakit potensial
  3. Distribusi faktor risiko.
  • Pendekatan – pendekatan penapisan
  1. Penapisan masyarakat

Penapisan ini berfaedah hanya untuk tujuan – tujuan perencanaan perawatan kesehatan atau penelitian epedemiologis atau pada masyarakat yang berprevalensi tinggi. Penapisan tersebut dapat digunakan untuk menentukan penderita IGT melalui OGTT. Pada kebanyakan masyarakat menapis anak dan dewasa muda untuk NIDDM, tidak efektif dalam hal biaya serta tenaga.

  1. Penapisan selektif

Penapisan ini dilakukan pada kelompok – kelompok selektif yang diketahui mempunyai faktor  – faktor yang menunjukkan berisiko tinggi untuk mengalamai atau mengembangkan NIDDM. Langkah – langkah ini meliputi:

–        Kesukuan kelompok – kelompok tertentu seperti penduduk asli Pasifik, Aborigin Australia, migrant India dan Cina, dan keturunan orang Amerika menunjukkan prevalensi diabetes tinggi

–        Riwayat kelurga NIDDM pada keluraga keturunan pertama positif ( orang tua, saudara kandung atau anak )

–        Obesitas, misalkan andeks massa tubuh ≥ 27, terutama wanita dengan riwayat DMK atau bayi besar

–        Usia lebih dari 50 tahun pada mereka yang berasal dari Eropa, atau lebih besar dari 30 – 40 tahun pada masyarakat berprevalensi tinggi

–        Riwayat pernah mengalami ketidak normalan toleransi glukosa, terutama dalam kehamilan ( misalkan, GGIT, DMK )

–        Hipertensi, penyakit mikrovaskuler atau dislipoproteinemia ( trigiserida meningkat ).

Pada masyarakat berprevalensi rendah harus digunakan pendekatan yang lebih selektif.

  1. Penapisan oportunistik

Penapisan ini dilaksanakan manakala orang – orang yang berisiko tinggi terdapat pada beberapa sektor dalam system perawatan kesehatan. Penapisan ini paling banyak dilakukan dan paling efektif dalam pembiayaan karena tidak memerlukan sumber daya untuk mengorganisasikan penapisan atau mendatangi para subjek.

  • Strategi – strategi penapisan
  1. Penilaian resiko

Program penapisan harus menentukan orang – orang dengan satu atau lebih faktor – factor risiko diabetes yang dijelaskan di atas. Penilaian ini dapat dilakukan dengan kuesioner tertulis atau secara verbal. Orang – orang dengan satu atau lebih faktor risiko harus dirujuk untuk penilaian dan pengujian.

  1. Pengukuran glukosa

Kini belum ada pengganti yang memuaskan; alternatif seperti pengukukuran glycated haemoglobin, glycated proteins dan 1,5 – anydroglucitol, meskipun khas, tidak terlalu peka untuk menentukan gangguan glisemia derajat rendah.

–        Pengukuran glukosa urin. Pengukuran ini tidak peka dan relative tidak khas untuk menentukan diabetes. Namun, pengukuran ini boleh digunakan jika pengukuran glukosa darah yang andal tidak tersedia. Kepekaan lebih baik bila digunakan sampel urin post – prandial. Hasil uji urin posif menunjukkan perlunya pemastian dengan uji glukosa darah.

–        Pengukuran glukosa darah sewaktu. Nilai darah vena ( whole blood ) ≥ 10,0 mmol atau 11,1 mmol / L plasma vena menyiratkan diabetes. Aras yang lebih besar dari 7 – 8 mmol / L harus diikuti dengan pengujian lebih lanjut.

–        Pengukuran glukosa darah biasa. Nilai ≥ 10,0 mmol / l dalam darah vena atau 11,1 mmol / l dalam plasma vena menunjukkan diabetes. Nilai yang lebih besar dari 7 – 8 mmol / l sebaiknya diteruskan dengan pemeriksaan lebih lanjut.

–        Glukosa darah puasa. Puasa diartikan sebagai tidak mengkonsumsi sembarangan makanan atau minuman selain air setidak – tidaknya 10 – 16 jam sebelum pengujian.

–        Uji toleransi glukosa oral. Uji ini masih tetap merupakan penegasan pasti uji dagnostik diabetes. Aras glukosa diagnostik 2 jam sesudah pemberian glukosa oral sebanyak 75 gram dan metode pelaksanaan OGTT ( UTGO ). UTGO juga dianjurkan untuk menapis IGT.

  • Kemungkinan hambatan

Program – program penapisan seharusnya tidak dimulai tanpa mengenal secara utuh dampak pembiayaan, baik terhadap penapisan dan tindak lanjut serta perawatan klinis bagi mereka yang terdeteksi menderita diabetes. Mereka yang akan melakukan penapisan harus terlebih dahulu dilatih, dan kepentingan dan relevansi program terhadap perawatan kesehatan harus dibuat secara eksplisit.

  • Evaluasi

Program – program penapisan harus dinilai dalam hal:

–     Jumlah kasus – kasus baru yang terdeteksi

–     Biaya tiap kasus baru yang terdeteksi

–     Langkah – langkah yang diambil terhadap orang – orang dengan hasil positif

–     Manfaat jangka panjang deteksi dini.

  • Kesimpulan

–     Penapisan diabetes dibenarkan atas dasar bahwa pendeteksi dini memberi jalan intervensi dini yang efektif, sehingga mengurangi kemungkinan perkembangan penyulit – penyulit

–     Penapisan populasi tidak dibenarkan selain untuk perencanaan kesehatan dan penelitian, serta pada masyarakat berprevalensi tinggi

–     Penapisan selektif terhadap risiko tinggi dan penapisan oportunistik harus dengan diagnosis konfirmatif serta tindak lanjut yang tepat terhadap kasus – kasus baru

–     Penapisan terhadap IGT boleh dibenarkan pada populasi yang berisiko tinggi tetapi memerlukan OGTT untuk pengidentifikasian dan program intervensi gaya hidup. Bukti akan manfaat yang terakhir ini masih bersifat tidak langsung.

  1. b.      Penapisan Diabetes Mellitus Yang Tergantung Insulin (IDDM)

Dengan ilmu pengetahuan terkini, penapisan dapat dianjurkan hanya untuk tujuan penelitian berkenaan dengan pencegahan IDDM. Pendekatan-pendekatan penapisan yang berlainan dapat diterapkan tergantung pada pertanyaan penelitian tertentu. Empat parameter yang tersedia untuk digunakan adalah :

–        Riwayat keluarga

–        Marker-marker genetic (HLA)

–        Marker-marker resiko imunologik

–        Marker-marker resiko metabolik

2.4 Peran Perawat Dalam Upaya Pencegahan Sekunder

Tujuan keperawatan adalah membantu individu meraih kesehatan yang optimal dan tingkat fungsi maksimal yang mungkin diraih setiap individu. Peran perawat dalam konteks sehat atau sakit adalah meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit. Kaitannya dengan hal tersebut, promosi kesehatan merupakan suatu upaya mengarahkan sejumlah kegiatan guna membantu klien mempertahankan atau meraih derajat kesehatan dan tingkat fungsi setinggi-tingginya serta menikmati kenyamanan. Aktifitas keperawatan yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan klien antara lain : pendidikan dan konseling kesehatan.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut perawat kontemporer saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif. Perawat kontemporer menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Potter dan Perry, 1997).

Sebagai pemberi perawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan yang lebih dari sekedar sembuh dari penyakit tertentu namun berfokus pada kebutuhan kesehatan klien secara holistik, meliputi upaya mengembalikan kesehatan emosi, spiritual, dan sosial. Sebelum mengambil tindakan keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi klien, pemberian perawatan, dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana tindakan dengan menetapkan pendekatan terbaik bagi tiap klien. Penetapan ini dilakukan sendiri oleh perawat atau dapat berkolaborasi dengan keluarga klien dan dalam keadaan seperti ini perawat juga dapat bekerja sama dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional yang lain (Keeling dan Ramos, 1995).

Perawat juga berperan sebagai advokat atau pelindung klien, yaitu membantu untuk mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari efek yang tidak diinginkan yang berasal dari pengobatan atau tindakan diagnostik tertentu. Peran inilah yang belum tampak di kebanyakan institusi kesehatan di Indonesia, perawat masih sebatas menerima delegasi dari profesi kesehatan yang lain tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakan yang akan dilakukannya apakah aman atau tidak bagi kesehatan klien. Manajer kasus juga merupakan salah satu peran yang dapat dilakoni oleh perawat, di sini perawat bertugas untuk mengatur jadwal tindakan yang akan dilakukan terhadap klien oleh berbagai profesi kesehatan yang ada di suatu rumah sakit untuk meminimalisasi tindakan penyembuhan yang saling tumpang tindih dan memaksimalkan fungsi terapeutik dari semua tindakan yang akan dilaksanakan terhadap klien.

Seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya yaitu perawat harus mengembalikan kondisi klien secara holistik baik fisik maupun sosial dan spiritual klien ke keadaan sebelum klien menderita penyakitnya. Di sinilah peran perawat sebagai rehabilitator untuk mengembalikan keadaan klien atau paling tidak seoptimal mungkin untuk mendekati keadaan seperti sebelum ia sakit dengan berbagai asuhan keperawatan seperti latihan ROM dan latihan lain yang dapat membantu klien untuk kembali ke kondisi kesehatannya seperti semula. Selain di bidang pelayanan kesehatan, perawat juga memiliki peran sebagai pendidik. Ada dua konteks pendidik disini, pertama sebagai pendidik di suatu institusi pendidikan keperawatan untuk mencetak perawat-perawat baru yang berkualitas, dan kedua adalah sebagai tenaga pendidik yang memberikan pengetahuan tentang kesehatan kepada masyarakat umum untuk menciptakan lingkungan yang sadar dan peduli akan pentingnya hidup dalam taraf kesehatan tertentu.