1. A.     Pencegahan Penyakit

Dalam mendiskripsikan dan menentukan karakter berbagai tingkat pelayanan perawatan kesehatan, ada tiga tingkatan yang telah ditentukan. Perawatan primer adalah tingkatan pertama perawatan dan merupakan tingkatan untuk masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan seperti kunjungan ke dokter keluarga, ruang gawat darurat, atau klinik. Perawatan sekunder biasanya di berikan dalam lingkungan rumah sakit, perawatan di panti wreda, atau perawatan biasa yang di berikan oleh home health agency. Perawatan tingkat sekunder juga meliputi bedah minor atau bedah umum, dan asuhan keperawatan rutin dan tingkat lanjut. Perawatan tersier adalah perawatan tingkat ketiga dan merupakan tingkatan tertinggi. Perawatan tingkat ini di temukan di rumah sakit besar yang canggih yang menggunakan teknologi paling mutakhir, seperti bedah jantung, bedah otak, dan unit perawatan intensif khusus, misal, unit perawatan intensif bayi baru lahir.

Dari model klinis yang menggunakan tiga kelas perawatan medis, ada tiga tahapan pencegahan yang muncul. Tiga tahapan tersebut adalah: pencegahan primer, sekunder, dan pencegahan tersier.

Ide dibalik tiga tahapan pencegahan itu adalah pelaksanaan deteksi intervensi terhadap penyebab, faktor resiko dan prekursor (pemicu) penyakit. Landasan dari semua pemikiran epidemologi adalah pencegahan dan pengendalian penyakit dalam populasi. Bidang epidemologi lebih berfokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit bukan pada teknik pengobatan sekunder dan tersier yang ada dalam ilmu tradisional. Deteksi dan intervensi terhadap masing-masing maupun keseluruhan penyakit yang menyerang manusia merupakan salah satu pembahasan utamanya. Pencegahan walaupun sulit diukur dan di demonstrasikan secara empiris tidak terlalu menyusahkan baik dalam hal penderitaan manusia maupun penghematan dana di bandingkan biaya yang di keluarkan untuk intervensi krisis dan pengobatan terhadap penyakit dan kondisi setelah kejadian. Upaya yang paling sedikit hasilnya dan mengeluarkan banyak biaya untuk meningkatklan status kesehatan penduduk adalah upaya pengobatan penyakit pada saat penyakit itu berada dalam tahap lanjut dengan terbatasnya harapan untuk dapat pulih seperti sedia kala.Tujuan dari pencegahan adalah menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Konsep pencegahan meluas, mencakup langkah-langkah untuk mengganggu atau memperlambat penyakit atau kelainan. Dari perluasan ide inilah tiga tahapan pencegahan di kembangkan.

  1. B.      Pencegahan Primer

Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan perlindungan kesehatan adalah tiga aspek utama di dalam pencegahan primer. Perubahan gaya hidup, penyuluhan kesehatan masyarakat, skrining kesehatan, pendidikan kesehatan adalah di sekolah, kegiatan kesehatan perawatan pranatal yang baik, pilihan perilaku hidup yang baik, gizi yang cukup, kondisi keamanan dan kesehatan di rumah, sekolah atau tempat kerja, semuanya termasuk dalam aktivitas pencegahan primer. Langkah-langkah dan kegiatan pokok di dalam kesehatan masyarakat seperti sanitasi, pengendalian infeksi, imunisasi, pelindungan makanan, susu dan sumber air, pengamanan lingkungan dan perlindungan terhadap bahaya dan kecelakaan kerja merupakan kegiatan dasar di dalam pencegahan primer. Hygiene perorangan dan langkah-langkah kesehatan masyarakat memiliki dampak yang besar terhadap epidemi penyakit menular. Imunisasi, pengendaian infeksi (misal, cuci tangan), penyimpangan makanan dalam lemari pendingin, pengumpulan sampah, pengelolaan limbahpadat dan cair, perlakuan dan perlindungan persediaan iar, dan sanitasi umum telah menurunkan ancaman penyakit infeksius di masyarakat. Dengan demikian, penyebab kematian utama penyakit di negara-negara industri bukan lagi penyakit menular. Penyakit kronis, gaya hidup, dan perilaku manusia saat ini merupakan faktor kontribusi utama penyebab kematian di Amerika Serikat dan negara industri negara lain. Faktor utama yang berkontribusi dalam penyebab kematian antara lain konsumsi rokok dan tembakau, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, kecelakaan, diet, kurang olahraga, masalah kesehatan mental dan emosi, serta masalah kesehatan lingkungan. Langkah-langkah pencegahan di tingkat dasar saat ini harus diorientasi pada pengaturan perilaku dan gaya hidup. Aktivitas dasar kesehatan masyarakat seperti promosi dan pencegahan tidak boleh diabaikan, dilalaikan, atau dikurangi. Jika kegiatan tersebut tidak dipertahankan pada tingkat yang tinggi, penyakit menular dapat kembali menjadi penyebab utama penderitaan, penyakit, dan kematian. Dengan tetap memelihara kegiatan kesehatan masyarakat, upaya di tingkat pencegahan primer harus di fokuskan pada perubahan perilaku individu dan perlindungan lingkungan. Dengan demikian, di masa mendatang, fokus terhadap pengobatan dan perawatan kesehatan yang di berikan dokter akan berkurang dan harus digantikan dengan upaya pencegahan primer termasuk dukungan ekonomi yang cukup untuk kegiatan dan program pencegahan.

  1. C.      Definisi Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual. Ini bukan sekedar pengubahan gaya hidup saja, namun berkaitan dengan pengubahan lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung dalam membuat keputusan yang sehat.

Pengubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui penggabungan:

  1. menciptakan lingkungan yang mendukung,
  2. mengubah perilaku, dan
  3. meningkatkan kesadaran.

Dalam Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I yang diadakan di Ottawa, Kanada, menghasilkan sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Ottawa. Dalam piagam ini tertera strategi dalam meningkatkan kontrol masyarakat terhadap kesehatan diri mereka sendiri.

Dewasa ini promosi kesehatan (health promotion) telah menjadi bidang yang semakin penting dari tahun ke tahun. Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam hal perhatian dunia mengenai masalah promosi kesehatan. Pada 21 November 1986, World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama bidang Promosi Kesehatan yang diadakan di Ottawa, Kanada. Konferensi ini dihadiri oleh para ahli kesehatan seluruh dunia, dan menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut Ottawa Charter (Piagam Ottawa). Piagam ini menjadi rujukan bagi program promosi kesehatan di tiap negara, termasuk Indonesia.

Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka (Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health, WHO, 1986). Jadi, tujuan akhir promosi kesehatan adalah kesadaran di dalam diri orang-orang tentang pentingnya kesehatan bagi mereka sehingga mereka sendirilah yang akan melakukan usaha-usaha untuk menyehatkan diri mereka.

Lebih lanjut dokumen itu menjelaskan bahwa untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, individu atau kelompok harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasi-aspirasinya untuk memenuhi kebutuhannya dan agar mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, dan sebagainya). Kesehatan adalah sebuah konsep positif yang menitikberatkan sumber daya pada pribadi dan masyarakat sebagaimana halnya pada kapasitas fisik. Untuk itu, promosi kesehatan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari sektor kesehatan, akan tetapi jauh melampaui gaya hidup secara sehat untuk kesejahteraan (WHO, 1986).

Penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan dengan mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka, melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu sekaligus kolektif (Taylor, 2003).

Dari paparan di atas, tampaklah bahwa lingkup promosi kesehatan bukan semata-mata pendidikan, penyuluhan, atau serangkaian kampanye mengenai masalah kesehatan. Menurut Kapalawi, pendidikan atau penyuluhan kesehatan memang memiliki sasaran yang sama, yaitu perubahan perilaku individu atau kelompok untuk peningkatan derajat kesehatan. Namun sebenarnya keduanya hanya merupakan bagian kecil dari promosi kesehatan. Promosi kesehatan bersifat lebih luas atau lebih makro lagi dan lebih menyentuh sisi advokasi pada level pembuat kebijakan di mana promosi kesehatan berusaha melakukan perubahan pada lingkungan dengan harapan terjadinya perubahan perilaku yang lebih baik (Kapalawi, 2007). Menurut Green dan Ottoson (dalam Iqi, 2008), promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan.

Oleh karena itu, lingkup promosi kesehatan dapat disimpulkan sebagai berikut (Iqi, 2008):

  1. Pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan.
  2. Pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.
  3. Upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi.
  4. Upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
  5. Upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk memengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana, dan lain-lain di berbagai bidang/sektor, sesuai keadaan).
  6. Pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat (community development), penggerakan masyarakat (social mobilization), pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.
  7. D.     Metode Promosi Kesehatan

Kesehatan memerlukan prasyarat-prasyarat yang terdiri dari berbagai sumber daya dan kondisi dasar, meliputi perdamaian (peace), perlindungan (shelter), pendidikan (education), makanan (food), pendapatan (income), ekosistem yang stabil (a stable eco-system), sumber daya yang berkesinambungan (a sustainable resources), serta kesetaraan dan keadilan sosial (social justice and equity) (WHO, 1986). Upaya-upaya peningkatan promosi kesehatan harus memerhatikan semua prasyarat tersebut.

WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut Piagam Ottawa, kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti:

  1. Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy)

Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level, mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan.

Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan perubahan organisasi. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan, pendapatan, dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat, pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih menyenangkan.

Kebijakan promosi kesehatan memerlukan identifikasi hambatan untuk diadopsi pada kebijakan publik di luar sektor kesehatan, serta cara menghilangkannya. Hal ini dimaksudkan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan lebih mudah untuk pembuat keputusan.

  1.  Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments)

Masyarakat kita kompleks dan saling berhubungan. Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan komunitas yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik —untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan alam kita. Konservasi sumber daya alam di seluruh dunia harus ditekankan sebagai tanggung jawab global.

Perubahan pola hidup, pekerjaan, dan waktu luang memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan. Pekerjaan dan waktu luang harus menjadi sumber kesehatan untuk manusia. Cara masyarakat mengatur kerja harus dapat membantu menciptakan masyarakat yang sehat. Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang menstimulasi, memuaskan, dan menyenangkan.

Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat. Terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi energi dan urbanisasi sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja.

  1. Memperkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)

Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka.

Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan dukungan.

  1. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)

Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.

Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas.

  1. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)

Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu, kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan pemerintah.

Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan, di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik yang lebih luas.

Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan profesional. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya.

  1. Bergerak ke masa depan (moving into the future)

Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya.

Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama.

Dari enam hal di atas, setidaknya dapat disimpulkan dua kata kunci kegiatan promosi kesehatan, yakni advokasi (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment).

  1. E.      Konsep Promosi kesesehatan

Istilah promosi kesehatan adalah perwujudan dari konsep pendidikan kesehatan yang secara organisasi structural dimana tahun 1984 organisasi WHO dalam salah satu divisinya, yaitu Devision Health Education diubah menjadi Devision on Health promotion and education, dan konsep ini baru oleh departemen kesehatan RI tahun 2000 mulai menyesuaikan dengan merubah Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat menjadi Direktorat Promosi Kesehatan dan sekarang menjadi Pusat Promosi Kesehatan.

Kegiatan promosi kesehatan pada dasarnya adalah untuk membiasakan Gaya hidup sehat (GHS), GHS adalah kegiatan yang dilakukan dengan kesadaran dan membudayakan PHBS bagi diri dan keluarga serta untuk mengembangkan peran aktif dalam upaya kesehatan di masyrakat.

Visi , Misi dan Strategi PROMKES

  1. VISI
    Tumbuhnya gerakan bersih di masyarakat yang didasari untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta kepedulian untuk berperan aktif dalam upaya kesehatan menuju terwujudnya kabupaten / kota / provinsi sehat dan Indonesia sehat 2010.
  1. Misi:

a)      Mendorong tumbuhnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya hidup bersih dan sehat yang berperan aktif dalam upaya kesehatan di masyarakat.

b)      mensosialisasikan program kesehatan pada masyarakat luas.

c)      melakukan advokasi kebijakan publik yang berdampk positif pada kesehatan.

  1. Srategi Promosi Kesehatan :

a)      Advokasi

Khususnya bagi para pembuat keputusan, untuk membuat kebijakan yang minimal dapat memberikan kontribusi positif pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat

b)      Bina Suasana

Untuk membentuk opini positif dan iklim yang mendukung bagi pengembangan perilaku / budaya hidup sehat

c)      Gerakan/Pemberdayaan Masyarakat

Untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendorong peran aktif masyarakat dalam upaya kesehatan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan, partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya. Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi, 2008):

  1. Adanya saling percaya antar anggota masyarakat
  2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
  3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat
  4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.

Bentuk Kegiatan :

  1. Advokasi

–        sasaran / mitra : Pembuat / penentu kebijakan, baik di Pusat maupun di daerah (birokrat, lembaga legislatif, politisi, dan penyandang dana)

–        keluaran yang diharapkan : kebijakan yang sehat, paling tidak yang dapat mendukung pengembangan lingkungan dan perilaku sehat

–        kegiatan yang dilakukan : melalui lobby, penyajian data / laporan, pertemuan intensif, orientasi, dll

  1. Bina Suasana

–        sasaran/mitra : pembuat opini, tokoh berpengaruh, pengelola media massa dan petugas kesehatan

–        keluaran yang diharapkan : iklim kondusif dan opini positif yang mendukung pertumbuhan perilaku dan perkembangan lingkungan sehat

–        kegiatan yang dilakukan : mengembangkan pesan melalui media massa, peningkatan kemitraan dengan Organisasi Kemasyarakatan / Organisasi Profesi / LSM, tokoh masyarakat / tokoh agama serta meningkatkan peran dan kepedulian petugas kesehatan sendiri.

  1. Penggerakan Masyarakat :

–        sasaran/mitra : masyarakat langsung, organisasi kemasyarakatan/organisasi profesi/LSM

–        keluaran yang diharapkan : tumbuhnya budaya hidup bersih dan sehat serta berkembangnya peran aktif masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan

–        kegiatan yang dilakukan : melakukan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, kunjungan rumah, dll

Tujuan Promosi kesehatan :

Tersosialisasikannya program-program kesehatan, terwujudnya masyrakat Indonesia baru yang berbudaya bersih dan sehat, serta tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, menuju tewujudnya kabupaten / kota sehat, propinsi sehat dan Indonesia Sehat 2010.

Ruang Lingkup Promosi Kesehatan :

  1. Mengembangkan kebijaksanaan pembangunan berwawasan kesehatan
  2.  Mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung
  3. Memperkuat kegiatan masyarakat
  4. Meningkatkan ketrampilan perorangan
  5. Mengarahkan pelayanan kesehatan yang lebih memberdayakan masyarakat

Sasaran Promosi Kesehatan :

  1. Perorangan / Keluarga
  2. Tatanan-tatanan lain (sekolah, tempat kerja, tempat umum, sarana kesehatan, dll)
  3. Organisasi Kemasyarakatan / Organisasi Profesi / LSM
  4. Petugas / Program / Institusi Kesehatan
  5. Lembaga Pemerintah / Lintas Sektor / Politisi / Swasta

Acuan Penyelenggaraan Promosi Kesehatan :

  1. Promosi kesehatan difokuskan pada tumbuhnya gerakan hidup sehat di masyarakat, yang dilakukan secara kemitraan oleh berbagai pihak, terutama oleh masyarakat sebagai unsur utama, didukung oleh pemerintah dan berbagai sektor, Organisasi kemasyarakatan / organisasi profesi/ LSM dan swasta.
  2. Promosi kesehatan dilakukan secara desentralisasi, sesuai keadaan, permasalahn dan budaya daerah/setempat
  3. Promosi kesehatan ditekankan pada upaya pemeliharaan, perlindungan dan peningkatan kesehatan dengan prioritas : KIA, status gizi, kesling, gaya hidup, JPKM dan prioritas lain
  4. Promosi kesehatan diselenggarakan dengan mengembangkan tatanan-tatanan sehat (keluarga, sekolah, tempat kerja, tempat umum, dan sarana kesehatan) dalam rangka mewujudkan kawasan sehat
  5. Promosi kesehatan dilakukan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, dilandasi dengan moral dan etika serta nilai-nilai kemanusiaan.

Sasaran-sasaran Spesifik dalam Promosi Kesehatan :

  1. Sasaran Primer

Adalah sasaran yang mempunyai masalah yang diharapkan mau berperilaku seperti yang diharapkan dan memperoleh manfaat paling besar dari perubahan perilaku tersebut.

  1. Sasaran Sekunder

Adalah individu atau kelompok yang berpengaruh atau disegani oleh sasaran primer. Sasaran ini diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran

  1. Sasaran Tersier

Adalah para pengambil keputusan, para penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh diberbagai tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan)

  1. F.       Pendidikan Kesehatan

Pengertian:

  1. Pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang mendukung kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesatuan individu, masyarakat dan ras (Wood,1926).
  2. Pendidikan kesehatan adalah komponen program kesehatan dan kedokteran yang terdiri atas upaya terancang untuk mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat yang merupakan cara berpikir, bersikap dan berbuat dengan tujuan membantu pengobatan renovilitasi, pencegahan penyakit dan promosi hidup sehat (Stuart,1968).
  3. Suatu proses perubahan pada diri manusia yang ada hubungannya dengan tujuan kesehatan baik perorangan maupun pada masyarakat (Nyswander,1947).
  4. Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan proses pemindahan materi dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. Artinya perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam individu atau masyarakat sendiri. Pendidikan kesehatan adalah istilah yang diterapkan pada penggunaan proses pendidikan secara terencana untuk mencapai tujuan kesehatan yang meliputi beberapa kombinasi dan kesempatan pembelajaran (Lawrence Green, 1972).
  5. Menurut Committee Presidenton Health Education, 1997 yang dikutip Soekidjo Notoadmojo, 1997 pedidikan kesehatan adalah proses yang menjembatani kesenjangan antara informasi kesehatan dan pratik kesehatan, yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat sesuatu sehingga dapat menjaga lebih sehat dengan menghindari kebiasaan yang buruk dan membentuk kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
  6. Menurut Craven dan Hirnle, 1996 pendidikan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan untuk mengingat fakta/ kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction) dan aktif memberikan informasi-informasi. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan merupakan proses perubahanperilaku secara terncana pada diri individu, kelompok, atau masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat.
  7. Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkandan memperbaiki kesehatna mereka (WHO).
  8. Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orng lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikandi dalam bidang kesehatan. Dilihat dari segi pendidikan, pendidikan kesehatan adalah suatu pedagogik praktis atau praktik pendidikan, oleh sebab itu konsep pendidikan kesehatan adalah konsep pendidikan yang diaplikasikan pada bidang kesehatan. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajr yang berarti di dalm pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. (Soekidjo Notoadmojo 2003:97)
  9. Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan sekedar proses transfer materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur, akan tetapi perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran diri individu, kelompok atau masyarakat sendiri.(Wahit DKK 2006)

Tujuan

Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu :

  1.  Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.
  2. Memahami apa yang dapat mereka  lakukan terhadap masalahnya dengan daya yang  ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar.
  3. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat. (Ida Bagus, Tjitarsa,1992)

Sedangkan tujuan dari pendidikan kesehatan menurut undang-undang kesehatan No.23 tahun 1992 maupun WHO yakni : “meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan secara fisik, mental dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun secar sosial, pendidikan kesehatan  disemua program kesehatan baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat pelayanan kesehatn maupun program kesehatan lainnya”.

 

Tujuan ini dapat diperinci sebagai berikut :

  1. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat.
  2. Mendorong individu agar mampu secar mandiri/ kelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat.
  3. Mendoong pengembangan dan penggunaan secara tepat saran pelayanan kesehatan yang ada.

Tujuan pendidikan kesehatan, secara operasional telah diperinci oleh Wong, 1947 sebagi berikut :

  1. Agar masyarakat memiliki tanggung jawab yang lebih besar pada kesehatan  keselamatan, lingkungan dan masyarakatnya.
  2. Agar orang melakukan langkah-langkah dalam mencegah terjadinya penyakit menjadi lebih parah dan mencegah keadaan ketergantungan melalui rehabilitasi  cacat yang disebabkan oleh peyakit.
  3. Agar orang memiliki pengertian yanh lebih baik tentang eksetsnsi dan perubahan-perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efisiensi dan efektif.
  4. Agar orang mempelajari apa yang dapat dia lakukan sendiri dan bagaimana caranya, tanpa selalu meminta pertolongan kepada sistem pelayanan kesehatan yang formal.
  1. G.     Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan. Dilihat dari:

  1. Dimensi sasaran, pendidikan kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

Pertama, pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu. Kedua, pendidikan kesehatan kelompok denagn sasaran kelompok. Ketiga, pendidikan kesehatan masyarakat denagn sasaran masyarakat luas.

  1. Dimensi tempat pelaksanaanya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat, dengan sendirinya sasaranya berbeda pula, misalnya :
  • Pendidikan kesehatan disekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
  • Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan dirumah-rumah sakit dengan sasaran pasien atau keluarga pasien, di puskesmas dan lain sebagainya.
  • Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
  1. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilkukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan (five levels of prevention) menurut leavel & Clark sebagai berikut :
    1. Healt Promotion atau peningkatan kesehatan, yaitu peningkatan status kesehatan masyarakat, dengan melalui beberapa kegiatan.
  • Pendidikan kesehatan (health education).
  • Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) seperti : penyuluhan tentang masalah gizi.
  • Pengamatan tumbuh kembang anak (growth and development monitoring).
  • Pengadaan rumah sehat.
  • Konsultasi perkawinan (Marriage counseling).
  • Pendidikan sex (sex education).
  • Pengendalian lingkungan.
  • Program P2M (pemberantasan penyakit menular) melalui kegiatan imunisasi dan pemberantasan vektor.
  • Stimulasi dan bimbingan dini atau awal dalam kesehatan keluarga dan asuhan keperawatan pada anak atau balita serta penyuluhan tentang pencegahan terhadap kecelakaan.
  • Program kesehatan lingkungan dengan tujuan menjaga lingkungan hidup manusia agar aman dari bibit penyakit seperti bakteri, virus dan jamur serta mencegah kemungkinan berkembangnya vector.
  • Asuhan keperawatan pre natal dan pelayanan keluarga berencana (KB).
  • Perlindungan gigi (dental prophylaxis).
  • Penyuluhan untuk pencegahan keracunan.

Masalah kesehatan yang dicegah bukan hanya penyakit infeksi yang menular tetapi juga masalah kesehatan yang lainnya yaitu kecelakaan, kesehatan jiwa, kesehatan kerja dan lain sebagainya. Besarnya masalah kesehatan masyarakat dapat diukur dengan menghitung tingkat morbiditas (kejadian sakit), mortilitas (kematian), fertilitas (kelahiran), dan disability (tingkat kecacatan) pada kelompok-kelompok masyarakat.

  1. General and spesific protection (perlindungan umum dan khusus), merupakan usaha kesehatan untuk memberikan perlindungan secara khusus atau umum kepada seseorang atau masyarakat. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan umum dan khusus sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya mauapun pada anak-anaknya masih rendah. Bentuk perlindungan tersebut dapat berupa :
  • Imunisasi dan hygiene perseorangan (personal hygiene).
  • Perlindungan diri dari kecelakaan (accidental safety).
  • Perlindungan diri dari lingkungan (protectif self environment).
  • Kesehatan kerja (occupational health).
  • Perlindungan diri dari carcinogen, toxin dan alergen.
  • Pengendalian sumber-sumber pencemaran, dan lain-lain.       
  1. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera atau adekuat). Usaha ini dilakuakan karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Bentuk usaha tersebut dapat dilakukan melalui:
  • Penemuan kasus secara dini (early case finding).
  • Pemeriksaan umum lengkap (general check up).
  • Pemeriksaan massal (mass screening).
  • Survey terhadap kontak, sekolah dan rumah (contact survey, school survey, house hold survey).
  • Penanganan khusus (case holding) dan pengobatan adekuat (adekuat treatment).
  1. Disability limitation atau pembatasan kecacatan. Kuranganya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatanya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya. Pengobatan yang tidak lengkap dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga di perlukan pada tahap ini dan dapat berupa:
  • Penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan.
  • Pencegahan komplikasi.
  • Perbaikan fasilitas kesehatan.
  • Penurunan beban sosial penderita, dan lain-lain.
  1. Rehabilitation atau rehabilitasi. Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak atau segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan. Di samping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu pendidikan kesehatan kepada masyarakat. (Wahit, dkk 2006)

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan

Tujuan pendidikan kesehatan dalam keperawatan adalah untuk meningkatkan status kesehatan, mencegah timbulnya penyakit dan bertambahnya masalah kesehatan, mempertahankan derajat kesehatan yang sudah ada, memaksimalkan fungsi dan peran pasien selama sakit, serta membantu pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan. Ada 4 faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu, pertama, faktor lingkungan, kedua, faktor perilaku, ketiga, faktor pelayanan kesehatan, keempat, faktor keturunan.

  • Faktor lingkungan, suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang menggambarkan lingkungan kehidupan manusia yang dihubungkan dengan sampah, pembuangan kotoran/ tinja, halaman rumah, selokan, kandang hewan, ventilasi, dan lain sebagainya.
  • Faktor perilaku, perilaku bisa dari individu tersebut dan dapat pula dipengaruhi dari luar, misal: pengaruh dari budaya nilai-nilai ataupun keyakinan dari masyarakat.
  • Faktor pelayanan kesehatan, petugas kesehatan berupaya dan bertangguang jawab memberikan pelayanan kesehatan kepada individu dan masyarakat. Mutu pelayanan yang profesional akan mempengaruhi status kesehatan masyarakat.
  • Faktor keturunan, keturunan ikut andil terhadap status kesehatan seseorang, seperti pada keluarga dengan penyakit hipertensi, diabetes mellitus, dan lain sebagainya. (Hendric L. Blum). Selanjutnya, Green menjelaskan bahwa perilaku di pengaruhi 3 faktor, yaitu pertama, faktor predisposisi (predisposing factors) seperti: pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, nilai budaya, dan lain sebagainya, kedua, faktor pemungkin (enabling factors) seperti ketersediaan sumber daya atau fasilitas yang dimiliki dan ketiga, faktor yang pemerkuat/ pendorong (reinforcing factors) ada pada sikap dan perilaku para petugas pelaksana.
  1. H.     Imunisasi

Kekebalan (imunitas) terjadi karena di dalam tubuh dimasuki oleh suatu antigen, baik berupa bakteri, virus ataupun toxinnya; maka tubuh akan bereaksi dengan membuat antibodi atau anti-toxin dalam jumlah yang berlebihan. Sehingga setelah tubuh selesai menghadapi serangan antigen ini, di dalam serumnya masih terdapat sisa zat anti yang dapat dipakai untuk melawan serangan antigen yang sama.

Menurut cara diperolehnya, zat anti tersebut, kekebalan dibagi menjadi kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Pertama, kekebalan aktif merupakan kekebalan yang diperoleh dari kondisi dimana tubuh orang itu aktif membuat zat anti sendiri. Keberadaan kekebalan aktif dalam diri manusia ini, bisa kita bagi dalam dua bagian.

  1. Kekebalan aktif alami (Naturally acquired immunity), artinya seseorang menjadi kebal setelah menderita penyakitnya. Contohnya, orang kebal terhadap cacar setelah sembuh dari cacar.  Kekebalan aktif disengaja (Artificialy induced active immunity), yaitu kekebalan yang diperoleh setelah orang mendapatkan vaksinasi.
  2. Kedua, kekebalan pasif. Yakni kekebalan yang diperoleh karena orang tersebut mendapatkan zat anti dari luar. Menurut dr. Indan Entjang (1993: 38), kekebalan pasif dibagi dua yaitu: Kekebalan pasif yang diturunkan (Congenital immunity), yaitu kekebalan pada bayi-bayi, karena mendapatkan zat anti yang diturunkan dari ibunya, ketika ia masih berada di dalam kandungan. Antibodi dari darah ibu, melalui placenta, masuk ke dalam darah si bayi. Macam dan jumlah zat anti yang didapatkannya tergantung pada macam dan jumlah zat anti yang dimiliki ibunya. Macam kekebalan yang diturunkan antara lain: terhadap tetanus, diptheri, pertussis, typhus. Kekebalan ini biasanya berlangsung sampai umur 3-5 bulan, karena zat anti ini makin lama makin berkurang, sedang ia sendiri tidak membuatnya. Kekebalan pasif disengaja (Artificially induced passive immunity). Yaitu kekebalan yang diperoleh seseorang karena orang itu diberi zat anti dari luar. Pemberian zat anti dapat berupa pengobatan maupun sebagai usaha pencegahan.

Untuk memperoleh kekebalan semacam itu, maka seseorang perlu mendapatkan imunisasi. Berdasarkan cacatan yang ada, pengembangan program imunisasi ini dimulai tahun 1977 secara bertahap menambahkan jenis antigen atau jenis imunisasi. Pada awalnya hanya vaksinasi DTP, BCG, dan TT. Pada tahun 1980 vaksinasi polio mulai dilaksanakan, menyusul tahun 1981 dilaksanakan vaksinasi Campak. Tahun 1992 vaksinasi Hepatitis B.