2.1 Pengertian Gangguan jiwa

Gangguan jiwa adalah gangguan dalam : cara berpikir (cognitive), kemauan (volition,emosi (affective), tindakan (psychomotor). Dari berbagai penelitian dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Keabnormalan tersebut dibagi ke dalam dua golongan yaitu : gangguan jiwa (Neurosa) dan Sakit jiwa (psikosa). Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah: ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa (Convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk dsb.

 

Banyak sekali jenis gangguan dalam cara berpikir (cognitive). Untuk memudahkan

memahaminya para ahli mengelompokan kognisi menjadi 6 bagian seperti sensasi, persepsi,

perhatian, ingatan, asosiasi pikiran kesadaran. Masing-masing memiliki kelainan yang beraneka ragam. Contoh gangguan kognisi pada persepsi: merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah dsb. padahal orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya tidak ada hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan yang sangat berat diarasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, pasien bisa mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Contoh gangguan kemauan: pasien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah membuat keputusan atau memulai tingkah laku. Pasien susah sekali bangun pagi, mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan. Banyak sekali jenis gangguan kemauan ini mulai dari sering mencuri barang yang mempunyai arti simbolis sampai melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang diperintahkan (negativime) Contoh gangguan emosi: pasien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham kebesaran). Pasien merasa sebagai orang penting, sebagai raja, pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno dsb. Tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya.

Contoh gangguan psikomotor : Hiperaktivitas, pasien melakukan pergerakan yang

berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan

apa-apa yang tidak disuruh atu menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau

melakukan gerakan aneh. Berdasarkan gejala-gejala yang muncul gangguan jiwa kemudian

dikelompokan menjadi beberapa jenis.

2.2 Sebab Terjadi Gangguan Jiwa 

            Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga secara

organobioliologis, psychoeducative, sosiocultural. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa,

maka ketiga unsur ini harus diperhatikan. Yang mengalami sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, umur, jenis kelamin, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan, kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya.

Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (organobiologis), di lingkungan sosial (sociokultural) ataupun psikologis dan pendidikan (psychoeducative). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan depresi, karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga mengalami peradangan tenggorokan atau seorang dengan mania yang berperilaku sangat aktip mendapat kecelakaan.

Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya peradangan yang melemahkan, maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin mengalami depresi. Sudah lama diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa. Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena trauma kelahiran, peradangan) kemudian menjadi banyak tingkah (hiperkinetik) dan sukar diasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi. Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :

1. Faktor-faktor organobiologis

–          Neroanatomi

–          Neurofisiologi

–          Neurokimia

–          Tingkat kematangan dan perkembangan organik

–          Faktor-faktor pre dan peri-natal

2. Faktor-faktor psikoedukatip

–          Interaksi ibu-anak : kehilangan figur ibu karena bekerja atau terpaksa

–          meninggalkan anak (perasaan tak percaya dan kebimbangan)

–          Peranan ayah

–          Persaingan antara saudara kandung

–          Inteligensi

–          Hubungan dalam keluarga, pekerjaan

–          Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah

–          Konsep diri : pengertian identitas diri: apakah saya laki atau perempuan ?

–          Keterampilan, bakat dan kreativitas

–          Pola adaptasi sebagai reaksi terhadap bahaya

–          Tingkat perkembangan emosi

3. Faktor-faktor sosiokultural

–          Kestabilan keluarga

Keluarga-keluarga dengan kondisi tertentu berpotensi untuk memilki anggota gangguan jiwa. Sehingga dalam berkeluarga perlu mencari ilmu untuk menentukan strategi yang diterapkan dalam mencapai visi atau tujuan keluarga. Potensi-potensi tersebut adalah :

  1. Tidak ada nilai agama di rumah tangga
  2. Orang tua pengangguran atau tidak ada penaggung jawab ekonomi
  3. Kemiskinan
  4. Ada anggota yang melakukan Kriminalitas
  5. Kekerasan di rumah tangga
  6. Lingkungan yang buruk
  7. Sering ada pertengkaran
  8. Tidak ada komunikasi
  9. salah satu anggota menggunakan NAPZA
  10. Tidak ada model Pola mengasuh anak

–          Tingkat ekonomi

Tingginya masyarakat miskin di Indonesia lebih dari 30 juta orang, ditambah dengan pengangguran lebih dari 40 juta orang telah menyebabkan meningkatnya kriminalitas, tingginya kekerasan di rumah tangga, banyaknya penggusuran, perebutan hak atas tanah, penipuan dsb. Hal itu dilakukan sebagai cara bertahan untuk hidup. Sehingga masyarakat menjadi mudah marah, gampang tersinggung dan sering menyelesaikan masalah dengan otot bukan dengan otak atau tidak mampu untukmenggunakan cara bermusyawarah. Hal itu meruapakan data adanya masalah psikologis dimana saat kebutuhan dasar manusia tidakterpenuhi maka orang menjadi panik dan tidak aman. Apabila dalam kondisi sebuah rumah tangga tidak ada cadangan beras, genting bocor, anak sakit susah berobat, lingkungan kotor , rumah sempit, rekening listrik belum terbayar, anak tidak sekolah dan menjadi gelandangan di jalan, maka hampir dipastikan di rumah tangga tertsebut tidak akan lahir generasi yang sehat jiwanya.

“Kemiskinan pangkal penyebab utama gangguan jiwa di Negara kita”

–          Perumahan masalah di perkotaan atau pedesaan

–          Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan,

–          pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai

–          Pengaruh rasial diskriminatif dan keagamaan

–          Nilai-nilai

2.3 Post Traumatic Penyebab Gangguan Jiwa dalam Keluarga

 

            Post traumatik adalah suatu kondisi dimana seseorang merasa tidak terlindung dari situasi bahaya dan ancaman hidup. Cara-cara penyelesaian masalah yang biasa digunakan  sudah tidak mampu lagi. Ia tidak dapat bertahan serta tidak mampu melarikan diri dari masalah tersebut. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memilki banyak potensi bencana mulai dari gunung meletus, banjir, longsor, kebakaran hutan, tsunami, kecelakaan pesawat, lumpur, sampai longsor sampah. Di samping disebabkan oleh bencana alam contoh masalah yang sering menyebabkan post traumatic yang sering terjadi di masyarakat adalah perkosaan, kekerasan seks pada anak di bawah umur (sexual-abuse), perang, bencana alam, penyanderaan, dll.

Penderita yang mengalamai penyakit PTSD adalah orang normal yang mengalami suatu pengalaman traumatik atau tidak biasa, hal tersebut susah dilupakan dan menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya pada saat terjadi Tsunami di Aceh banyak orang mendengar gemuruh ombak seperti suara kapa terbang yang terbang rendah. Setelah Tsunami berlalu setiap kapal terbang lewat ia menjadi ketakutan, berdebar-debar, cemas karena teringat pada trauma masa lalunya. Contoh lainnya pada saat terjadi gempa di Yogya. banyak orang ketakutan karena tertimpa reruntuhan rumah. Pada saat ada meja yang bergeser banyak orang menjerit ketakutan karena teringat kejadian pada saat gempa berlangsung.

2.4 Peran Keluarga Pada Klien Gangguan Jiwa

 

            Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan di RS akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah.

Pentingnya peran serta keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku (Clement dan Buchanan, 1982, hal. 171). Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat. Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota merupakan dapat mempengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota. Bila ayah sakit maka akan mempengaruhi perilaku anak, dan istrinya, termasuk keluarga lainnya.

Salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah; keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah ( Sullinger; 1988, Carson dan Ross; 1987 )

klien dengan diagnosa skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit karena perlakuan yang salah selama di rumah atau di masyarakat.

 

Ada empat faktor penyebab klien kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, menurut Sullinger, 1988 :

  1. Klien : Sudah umum diketahui bahwa klien yang gagal memakan obat secara teratur           mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur (Appleton, 1982, dikutip oleh Sullinger, 1988)
  2. Dokter (pemberi resep) : Makan obat yang teratur dapat mengurangi kambuh, namun pemakaian obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.
  3. Penanggung jawab klien: Setelah klien pulang ke rumah maka perawat puskesmas tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah.
  4. Keluarga : Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosiyang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu klien juga mudah dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan (kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga klien dan keluarga dapat mengatasi dan mengurangi stress.Cara terpai bisanya : Mengumpulkan semua anggota keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan baru kepda klien ganguan jiwa, memfasilitasi untuk hijrah menemukan situasi dan pengalaman baru.

Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarganya yaitu :

  1. Menjadi ragu-ragu dan serba takut (Nervous)
  2. Tidak nafsu makan
  3. Sukar konsentrasi
  4. Sulit tidur
  5. Depresi
  6. Tidak ada minat
  7. Menarik diri

Setelah klien pulang ke rumah, sebaiknya klien melakukan perawatan lanjutan pada puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program kesehatan jiwa. Perawat komuniti yang menangani klien dapat menganggap rumah klien sebagai “ruangan perawatan”. Perawat, klien dan keluarga besar sama untuk membantu proses adaptasi klien di dalam keluarga dan masyarakat. Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan rumah dan after care di puskesmas.

2.5 Orang Tua Sebagai Sahabat Anak dalam Mencegah Depresi

 

Kesibukan dan rasa capek serta lelah yang dialami setelah bekerja seharian bukanlah alasan yang sangat tepat untuk tidak menyediakan waktu buat anak-anak yang merupakan jiwa-jiwa suci dan anugrah tak nilai dari Sang Pencipta, tetapi kepenatan dan keletihan yang dialami seharian secara otomatis akan berangsur hilang dengan sendirinya apabila orang tua menyadari betapa pentingnya kehadirannya sebagai orang tua bagi anak-anaknya, sehingga orang tua yang bijaksana akan selalu meluangkan waktu secara khusus untuk mengenali dan menggauli anak-anaknya dengan baik

Ibu dan ayah harus menyediakan kesempatan yang sama kepada setiap anak mendapatkan curahan cinta dan kasih sayang dan persahabatan dengannya. Sudah tidak pada zamannya lagi seorang ayah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada ibu dalam mengasuh dan mendidik anak. Ayah dan ibu harus selalu kompak dan memikul tanggung jawab yang sama dalam mendidik anaknya karena keharmonisan sebuah rumah tangga tidak akan pernah terujud apabila antara suami dan istri masing-masingnya merasa lebih bertanggung jawab terhadap kelangsungan masa depan rumah tangganya.

Seorang ayah yang baik, akan selalu menjaga persahabatannya dengan anak-anaknya terutama dengan anak laki-lakinya, sehingga bagi anak, peran sang ayah bukan saja sebagai seorang sahabat yang akan memberinya pengalaman-pengalaman baru tetapi sang ayah juga akan menjadi sosok pembimbing dan pengarah yang mempunyai pengaruh kuat akan kebaikan dan kemurnian cinta dan kasih sayang

Banyak orang tua yang tidak mengerti dan memahami dengan baik sifat anak-anaknya dan tidak mengenal anak-anaknya itu secara baik. Kadang-kadang tanpa disadari timbul suatu garis pemisah yang sangat tegas antara anak dan orang tua. Akibatnya orang tua tidak bisa mengenali dan menyelami perasaan anak-anaknya karena tidak adanya kesempatan dan waktu yang disediakan orang tua untuk bergaul lebih dekat dengan anak-anaknya.

Pergaulan dan persahabatan yang dibangun dengan anak haruslah pergaulan yang diasari cinta dan kasih sayang yang tulus. Dengan cara ini, Orang tua akan dapat dengan leluasa mempelajari dan memahami cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan anak dan menceraikannya dengan pengaruh lingkungan yang buruk untuk perkembangan jiwa dan perilaku anak. Orang tua akan dengan mudah memimpin dan mengarahkan anak-anaknya menuju jalan yang diridhai Allah swt yaitu jalan yang dipenuhi sinar matahari cinta dan kehangatan kasih sayang yang tidak akan terputuskan sampai kapanpun

Seorang ayah wajib bergaul erat dengan anak-anak laki-lakinya karena hanya itulah cara terbaik yang bisa dilakukan seorang ayah untuk mengajari dan memberikan pengalaman-pengalaman yang lebih luas kepada anaknya. Seorang ayah yang baik akan selalu menyediakan waktu yang cukup untuk berbicara, bekerja dan bermain serta berbagi cerita dengan anak-anaknya.

Seorang ayah yang bijaksana juga akan menyadari bahwa seorang anak terutama anak yang masih muda tidak akan pernah suka untuk tinggal sendirian, mereka merindukan pujian dan anjuran. Pujian dan persetujuan serta kepercayaan orang tua adalah bagian terindah dalam hidup mereka. Bagaikan sinar matahari dalam hati mereka yang akan menghangatkan jiwa dan menggembirakan mereka sepanjang hari

Persetujuan dan kepercayaan serta pujian itu tidak akan pernah mungkin didapatkan oleh seorang anak dari orang tua yang tidak pernah mengenal dan mempercayai mereka. Betapa banyak orang tua yang tidak mampu memberikan kepercayaan kepada anak-anaknya karena tidak mengenal anaknya sendiri. Tentunya akan mustahil seorang orang tua bisa mengenal anaknya sendiri bila orang tua itu tidak pernah bisa membuktikan bahwa sebagai orang tua, dia mampu menawan hati dan memenangkan kepercayaan anak-anaknya.

Hanya ada satu cara untuk dapat memenangkan kepercayaan anak yaitu dengan selalu menyediakan waktu yang cukup bersama anak, bekerja dan bermain bersama anak. Semua waktu yang disediakan itu adalah saat yang tepat bagi orang tua untuk mengajarkan kelezatan cita dan kasih sayang kepada anak dan pada akhirnya seorang kakak akan juga belajar untuk menyayangi dan menghargai adik-adiknya dan seorang adik akan belajar menghormati dan mencintai kakak-kakaknya karena mereka menyadari dan memahami bahwa sesunggunya mereka dididik dan dibesarkan dengan sinar cinta serta kasih sayang yang sama dari orang tua mereka.

2.6 Pola Asuh Yang Tepat Bagi Anak

            Tipe kepribadian anak dapat juga dikenali dari ciri lainnya yaitu anak sulit, mudah, dan slow to warm up. Ciri ini melengkapi penggolongan kepribadian berdasarkan temperamen yang dikemukakan Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Untuk itu dituntut kejelian orang tua agar pola asuh yang tepat bisa diterapkan tanpa hambatan berarti.

Semua orang tua mengharapkan anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun, untuk mewujudkan harapan itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua dituntut untuk jeli mengamati perkembangan anak dan tentunya menerapkan pola asuh yang tepat.

Sebagai langkah awal, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, menekankan pula perlunya mengenali kepribadian atau karakter anak. Agak berbeda dari teori sebelumnya yang mengatakan bahwa kepribadian anak dipengaruhi temperamen phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis, Mayke mengetengahkan penggolongan temperamen yang bersifat lebih umum. Orang tua diminta mengamati apakah anaknya tergolong berkepribadian sulit, mudah, atau slow to warm up. Ciri-ciri ketiga tipe temperamen tersebut menurut Mayke biasanya telah dapat
diamati semenjak anak masih bayi.

  1. 1.    Tipe mudah

Ciri-cirinya:

  • Memiliki suasana hati yang positif, cenderung tidak rewel.
  • Dengan cepat dapat membentuk kebiasaan rutin yang teratur dan mudah menyesuaikan diri dengan pengalaman, situasi dan orang-orang baru.
  • Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tipe ini umumnya lebih mudah memahami penjelasan tentang perilaku yang diharapkan dari mereka.
  1. 2.      Tipe sulit

Ciri-cirinya:

  • Cenderung bereaksi secara negatif dan sering sekali menangis.
  • Cenderung bereaksi negatif terhadap kegiatan rutin, sehingga memberikan kesan sangat sulit untuk hidup secara teratur (misalnya keteraturan dalam hal makan, tidur

mandi dan lainnya).

  • Lamban dalam menerima pengalaman-pengalaman baru, sehingga penyesuaian diri dengan lingkungan, situasi, serta orang-orang di sekitarnya, dan makanan baru pun sulit.
  • Memasuki usia prasekolah atau balita, si anak sangat sulit sekali bila diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang perilaku apa yang tidak diharapkan dari mereka.
  1. 3.      Tipe slow to warm up

Ciri-ciri:

  • Memiliki ciri antara tipe sulit dan mudah.
  • Tingkat aktivitasnya rendah.
  • Cenderung menunjukkan suasana hati yang negatif (tetapi sedikit lebih baik daripada tipe sulit).
  • Penyesuaian dirinya juga lamban dan suasana hati anak tipe ini cenderung rendah intensitasnya. Semasa bayi ia tidak terlalu rewel bila dibandingkan dengan tipe anak sulit. Lewat bujukan-bujukan akhirnya ia dapat ditenangkan.
  • Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tidak terlalu mudah saat diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang apa yang diharapkan dari mereka dalam bertingkah laku. Dibutuhkan usaha yang cukup kuat dan sikap sabar dari orang tua dalam rangka mengajak anak bekerja sama.

Pada prinsipnya untuk ketiga tipe anak yang telah disebutkan di atas, pola pengasuhan yang tepat adalah authoritative (demokratis). Yang dimaksud dengan pengasuhan authoritative adalah pola pengasuhan di mana orang tua mendorong anak untuk menjadi mandiri, tetapi tetap memberikan batasan-batasan (aturan) serta mengontrol perilaku anak. Orang tua bersikap hangat, mengasuh dengan penuh kasih sayang serta penuh perhatian. Orang tua juga mem-berikan ruang kepada anak untuk membicarakan apa yang mereka inginkan atau harapkan dari orang tuanya.

Jadi, orang tua tidak secara sepihak memutuskan berdasarkan keinginannya sendiri. Sebaliknya, orang tua juga tidak begitu saja menyerah pada keinginan anak. Ada negosiasi antara orang tua dengan anak sehingga dapat dicapai kesepakatan bersama. Misalnya, bila anak batita memaksakan keinginannya untuk menggunting baju yang masih bisa dipakai. Orang tua dapat mengambil sikap dengan tetap tidak mengizinkannya menggunting baju yang masih terpakai, tetapi memberikan kain perca atau baju lain yang sudah tidak layak pakai. Oleh karena itu, dibutuhkan kepekaan, kesabaran, dan kreativitas orang tua.

Menurut Mayke, dalam pengasuhan authoritative tetap harus ditegakkan aturan main mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Bila anak balita tidak diberikan batasan ini, maka dia tidak tahu peraturan yang berlaku dan tidak memiliki rambu-rambu yang bisa membatasi perilakunya. Kontrol orang tua juga diperlukan, bila aturan telah ditetapkan, maka orang tua tetap harus memantau sejauh mana aturan itu bisa berjalan. Jangan sampai tanpa sepengetahuan orang tua, anak berhasil melanggar aturan main (misalnya karena dia diasuh oleh orang lain).

Dengan meningkatnya usia anak ke tahap sekolah dasar, maka peraturan tidak sepenuhnya ditetapkan oleh orang tua, melainkan dibicarakan bersama anak. Pemantauan (kontrol) tetap diperlukan, sekalipun tidak dalam jarak dekat seperti sebelumnya. Misalnya, orang tua selalu memantau dengan siapa anak bermain, apa saja kegiatan yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya di luar rumah. Tentu saja semua itu bukan dengan maksud untuk memata-matai aktivitas mereka.

Pola pengasuhan authoritative memang yang paling ideal, tetapi mungkin adakalanya orang tua tak mampu menerapkan pola ini dengan sepenuhnya. Terutama pada saat emosi orang tua sedang tidak stabil. Saat mengalami kondisi emosi negatif, orang tua cenderung bersikap lebih otoriter terhadap anak. Atau, bisa jadi saat sedang merasa senang karena bisnisnya berhasil, orang tua cenderung bersikap agak permisif terhadap anaknya.

Kondisi ini, menurut Mayke, masih manusiawi karena memang emosi manusia cenderung naik turun.Yang penting, sikap orang tua masih dalam situasi terkontrol, maksudnya segera menyadari dan kembali pada rambu-rambu yang telah ditetapkan, tambahnya. Namun, ada kemungkinan dalam kondisi tertentu orang tua memang harus bersikap tegas bila berhubungan dengan keselamatan jiwa anak atau orang lain. Misalnya ketika anak ingin bermain kabel yang dialiri listrik. Bila hal ini didiamkan, tentu dapat membahayakan jiwanya. Mau tidak mau orang tua harus bersikap otoriter. Katakan, tidak kepada si anak bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya.

Selanjutnya, untuk tidak mematahkan semangat atau keinginan anak bereksplorasi, carikan alternatif. Misalnya, berikan kabel lain yang tidak berhubungan dengan listrik. Jangan lupa, berikan alasan kenapa bermain kabel yang tertancap ke stop kontak dilarang. Pada saat anak sedang sakit pun, pola pengasuhan demokratis tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Pertimbangan kesehatan anak menjadi yang utama. Untuk itu, orang tua hendaknya memperhatikan seberapa berat dampak yang bakal ditimbulkan bila tetap menerapkan pola pengasuhan seperti biasa.

Khusus untuk anak bertipe sulit dan slow to warm up, memang dibutuhkan ketahanan fisik, kesiiapan mental dan kedewasaan orang tua. Selama mengasuh anak-anak dengan temperamen yang cenderung menyulitkan itu. Berarti orang tua harus lebih keras dalam berupaya.

  • Syarat Pola Asuh Authoritative

Inilah beberapa hal yang patut mendapat perhatian dalam menerapkan pola asuh authoritative:

  • Utamakan kehangatan atau kasih sayang yang mendalam. Kehangatan menjadi sangat penting karena tanpa adanya hal itu penerapan pola asuh authoritative semakin tidak gampang, terutama pada anak-anak yang tergolong sulit dan slow to warm up. Kehangatan akan lebih menenangkan hati anak dengan kedua tipe temperamen ini sehingga kadar emosi negatifnya menurun. Wujud kehangatan pada anak usia batita dapat dilakukan melalui pelukan yang erat, sering mengajaknya bermain, bercerita, dan berbicara dengan lemah lembut.
  • Saat memberlakukan batasan, orang tua harus tegas dan tegar (konsisten), sehingga anak akhirnya belajar bahwa orang tuanya tidak main-main dengan aturan yang sudah ditetapkan.
  • Orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ada rambu-rambu yang harus ditaati oleh orang tua dan anak. Selama masih menginjak usia batita, bila anak menolak rambu-rambu yang ditetapkan, maka ia jangan dipaksa mematuhinya. Cobalah cari alternatifnya dengan memakai penjelasan berbeda.  Namun anak-anak usia sekolah umumnya sudah dapat diajak berbicara atau berdiskusi tentang rambu-rambu ini, sehingga penerapannya menjadi lebih mudah. Hendaknya orang tua sudah mempersiapkan alasan-alasan yang dapat diterima anak, yaitu alasan yang tidak terlalu mengada-ada.
  • Dalam mengasuh dan membesarkan anak yang termasuk mudah, Mayke mengingatkan agar jangan sampai orang tua malah mengabaikannya. Hal ini umumnya sering terjadi pada orang tua yang memiliki anak-anak dengan dua tipe berbeda, misalnya yang satu termasuk tipe sulit dan yang lain mudah. Ayah atau ibu lantas lebih memperhatikan anak yang sulit dan selalu berusaha memenangkannya.

Tindakan ini, tidak hanya akan membahayakan anak dengan tipe mudah, tapi juga yang bertipe sulit. Anak tipe mudah akan mengalami frustrasi karena merasa selalu dikalahkan dan beralih menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan, anak dengan tipe sulit juga menjadi anak yang tidak mampu mengelola rasa frustrasi atau rasa kecewanya kala tidak mendapatkan sesuatu karena selalu dilindungi.