1. A.    Pengertian Etika Keperawatan

 

Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995)  Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profess.”

Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani, yaitu etos yang ar­tinya adat, kebiasaan, perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus Webster, etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Dan pengertian di atas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu:

a) Baik dan buruk dan

b) Kewajiban dan tang­gung jawab.

Moral, istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti adat dan kebiasaan. Pengertian moral adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan “standar perilaku” dan “nilai-nilai” yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi anggota masya­rakat di mana is tinggal. Etiket atau adat merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, diulang, serta menjadi suatu kebiasaan di dalam suatu masyarakat, baik berupa kata-kata atau suatu bentuk perbuatan yang nyata.

Ketiga istilah di atas—etika, moral, dan etiket—sulit untuk dibedakan, hanya dapat dilihat bahwa etika lebih menitik-beratkan pada aturan-aturan, prinsip-prinsip yang melandasi perilaku yang mendasar dan mendekati aturan-aturan, hukum, dan undang-un­dang yang membedakan benar atau salah secara moralitas. Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah, baik dan buruk dalam hubungan dengan orang lain. Etik juga merupakan studi tentang perilaku, karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada penetapan apa yang baik dan berharga bagi semua orang. Secara umum, terminologi etik dan moral adalah sama. Etik memiliki terminologi yang berbeda dengan moral bila istilah etik mengarahkan terminologinya untuk penyelidikan filosofis atau kajian tentang masalah atau dilema tertentu. Moral mendeskripsikan perilaku aktual, kebiasaan dan kepercayaan sekelompok orang atau kelompok tertentu.

Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional. Cara hidup moral perawat telah dideskripsikan sebagai etik perawatan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.

Fungsi Etika antara lain :

Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan.

Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.

Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralism

  1. B.     Prinsip-Prinsip Etik

 

  1. a.      Otonomi (Autonomy)

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

  1. b.      Berbuat baik (Beneficience)

Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.

  1. Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

  1. d.      Tidak merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

  1. e.       Kejujuran (Veracity)

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

  1. f.        Menepati janji (Fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.

  1. g.      Karahasiaan (Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.

  1. h.      Akuntabilitas (Accountability)

Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

  1. C.    Teori Etik dan Tipe – tipe Etik
    1. a.       Teori Etik

 

  • Utilitarian

Kebenaran atau kesalahan dari tindakan tergantung dari konsekwensi atau akibat tindakan Contoh : Mempertahankan kehamilan yang beresiko tinggi dapat menyebabkan hal yang tidak menyenangkan, nyeri atau penderitaan pada semua hal yang terlibat, tetapi pada dasarnya hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya.

  • Deontologi

Pendekatan deontologi berarti juga aturan atau prinsip. Prinsip-prinsip tersebut antara lain autonomy, informed consent, alokasi sumber-sumber, dan euthanasia.

  1. Tipe – tipe Etik
  • Bioetik

Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetik difokuskan pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan, bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etik pada moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia.

Pada lingkup yang lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain: peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang menyangkut perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip etik terhadap masalah-masalah pelayanan kesehatan

  • Clinical ethics/Etik klinik

Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien.

Contoh clinical ethics : adanya persetujuan atau penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang bermanfaat (sia-sia).

  • Nursing ethics/Etik Perawatan

Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan keputusan etik.

  1. D.    Kode Etik Keperawatan
  • Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik keperawatan di Indo­nesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989. Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal. Bab 1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan masya­rakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap sesama pe­rawat dan profesi kesehatan lain. Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap profesi ke­perawatan. Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang tang­gung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.
  1. Tanggung Jawab Perawat terhadap Klien

Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, atau komunitas, perawat sangat memerlukan etika kepe­rawatan yang merupakan filsafat yang mengarahkan tanggung ja­wab moral yang mendasar terhadap pelaksanaan praktik kepera­watan, di mana inti dari falsafah tersebut adalah hak dan martabat manusia. Karena itu, fokus dari etika keperawatan ditujukan terha­dap sifat manusia yang unik. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, diperlukan peraturan tentang hubungan antara perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai berikut.

  1. Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa ber­pedoman pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap keperawatan individu, keluarga, dan ma­syarakat.
  2. Perawat, dalam melaksanakan pengabdian di bidang kepera­watan, memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup ber­agama dari individu, keluarga, dan masyarakat.
  3. Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya terhadap indivi­du, keluarga, dan masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.
  4. Perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga, dan masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat.
  1. Tanggung Jawab Perawat terhadap Tugas

 

  1. Perawat memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahu­an serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
  2. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya, ke­cuali jika diperlukan oleh pihak yang berwenang sesuai de­ngan ketentuan hukum yang berlaku.
  3. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keteram­pilan keperawatan yang dimilikinya untuk tujuan yang ber­tentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
  4. Perawat, dalam menunaikan tugas dan kewajibannya, senan­tiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpenga­ruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama yang dianut, dan kedudukan sosial.
  5. Perawat mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasi­en /klien dalam melaksanakan tugas keperawatannya, serta ma tang dalam mempertimbangkan kemampuan jika meneri­ma a tau mengalih-tugaskan tanggung jawab yang ada hu­bungannya dengan keperawatan.

 

  1. Tanggung Jawab Perawat terhadap Sejawat

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan pro­fesi kesehatan lain adalah sebagai berikut.

  1. Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pe­layanan kesehatan secara menyeluruh.
  2. Perawat menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya kepada sesama perawat, serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi dalam rangka me­ningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
  1. Tanggung Jawab Perawat ferhadap Profesi
    1. Perawat berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawa tan.
    2. Perawat menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan de­ngan menunjukkan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
    3. Perawat berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan keperawatan, serta menerapkannya dalam ke­giatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.
    4. Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.

 

  1. Tanggung Jawab Perawat terhadap Negara
    1. Perawat melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksa­naan yang telah digariskan oleh pemerintah dalam bidang ke­sehatan dan keperawatan.
    2. Perawat berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.
  • Tujuan Kode Etik Keperawatan

Pada dasarnya, tujuan kode etik keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam menjalankan setiap tugas dan fungsinya, da­pat menghargai dan menghormati martabat manusia. Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar-perawat, klien/pasien, teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan sendiri maupun hubungan­nya dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
  2. Merupakan standar untuk mengatasi masalah yang dilakukan oleh praktisi keperawatan yang tidak mengindahkan dedikasi moral dalam pelaksanaan tugasnya.
  3. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
  4. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan ke­perawatan agar dapat menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional keperawatan.
  5. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai/ peng­guna tenaga keperawa tan akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas praktik keperawatan.
  • Kode Etik Keperawatan Menurut ANA

Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association (ANA) adalah sebagai berikut.

  1. Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan status sosial atau ekonomif atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.
  2. Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia.
  3. Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan ke­selamatannya terancam oleh praktik seseorang yang tidak ber­kompeten, tidak etis, atau ilegal.
  4. Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tin­dakan perawatan yang dijalankan masing-masing individu.
  5. Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
  6. Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
  7. Perawat turut serta beraktivitas dalam membantu pengem­bangan pengetahuan profesi.
  8. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melak­sanakan dan meningkatkan standar keperawatan.
  9. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk mem­bentuk dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayan­an keperawatan yang berkualitas.
  10. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melin­dungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
  11. Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat Iainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan kese­hatan publik.

Code for Nurse with Interpretive Statements. American Nurses Associa­tion, Kansas City, Missouri, 1976, hlm. 3.

  • Kode Etik Keperawatan Menurut ICN

ICN adalah suatu federasi perhimpunan perawat nasional di seluruh dunia yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1899 oleh Mrs. Bedford Fenwich di Hanover Square, London dan direvisi pada tahun 1973. Uraian kode etik ini diuraikan sebagai berikut.

  1. 1.       Tanggung Jawab Utama Perawat

Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kese­hatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut, perawat harus meyakini bahwa:

  • Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai tern-pat adalah sama
  • Pelaksanaan praktik keperawatan dititikberatkan pada peng­hargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjun­jung tinggi hak asasi manusia
  • dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan/atau kepera­watan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
  1. 2.      Perawat, Individu, dan Anggota Kelompok Masya­rakat

Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, dalam menjalankan t-ugas, perawat perlu meningkatkan ke­adaan lingkungan kesehatan dengan menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat, menghargai adat kebiasaan serta kepercayaan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menjadi pa­sien/kliennya. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi (privasi) dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukan oleh pihak yang berkepentingan atau pengadilan.

ü  Perawat don Pelaksanaan Praktik Keperawatan

Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar praktik keperawatan untuk mencapai ke­mampuan yang sesuai dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya se­cara aktif untuk menopang perannya dalam situasi tertentu. Pe­rawat sebagai anggota profesi, setiap saat dapat mempertahankan sikap sesuai dengan standar profesi keperawatan.

ü   Perawat dan Lingkungan Masyarakat

Perawat dapat memprakarsai pembaharuan, tanggap, mem­punyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam me­nemukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi di masyaraka t.

ü  Perawat dan Sejawat

Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman sekerja, baik tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di luar keperawatan. Perawat dapat melindungi dan menjamin se­seorang, bila dalam masa perawatannya merasa terancam.

ü  Perawat dan Profesi Keperawatan

Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pe­laksanaan standar praktik keperawatan dan pendidikan kepera­watan. Perawat diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam menopang pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat, sebagai anggota organisasi profesi, berpar­tisipasi dalam memelihara kestabilan sosial dan ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktik keperawatan.

  1. E.     Hubungan Antara Keluarga Pasien Dan Perawat

 

Seorang pasien yang dirawat di rumah sakit biasanya tidak sendiri, akan selalu ada keluarga maupun sanak saudara yang biasa menemaninya. Karena keluarga merupakan satu – satunya pihak yang berwenang atas segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah pasien atau penyakit yang dideritanya. Perawat di rumah sakit dilakukan karena biasanya keluarga sudah tidak mungkin lagi memberikan perawatan yang diperlukan pasien di rumah. Disini ada berbagai alsan – alasan antara lain :

  • Perawatan menjadi beban yang terlalu berat abgi keluarga
  • Perawatan bagi pasien yang trlalu sulit
  • Tidak adanya alat – alat bantu teknis yang sangat diperlukan
  • Hilangnya suasana rumah dimana orang dapat memberikan perawatan yang diperlukan.

Melalui perawatan dapat dipisahkan antara pasien dan keluarganya, hal ini perlu karena timbulnya berbagai emosi baik dari pihak pasien maupun keluarga. Pasien yang bersangkutan kadang – kadang merasa kecewa pada keluarganya sendiri, karena ia berfikir bahwa ia dapat tinggal di rumah. Keluarganya sering merasa tidak berdaya, karena mereka tidak dapat memberikan perawatan yang diperlukan. Meskipun demikian sebagai seorang perawat harus benar – benar berfikir bahwa tidak mungkin dapat mengambil alih posisi keluarganya dalam memberikan perawatan. Anda hanya mengambil alih perawatan keluarga karena anda memiliki ketrampilan khusus yang tidak dimiliki oleh keluarga. Keluarga sangat penting bagi pasien, sehingga perawat juga harus mengusahakan segala sesuatunya agar terjalin suatu hubungan yang baik antara pasien dengan keluarganya. Dalam hal ini penting sekali bahwa kita memberikan informasi pada keluarga tentang suka duka pasien, agar mereka dapat member dukungan yang sebaik – baiknya pada pasien. Keluarganya mempunyai hak untuk hal ini.

Mengikutsertakan keluarga dalam perawatan

Keluarga merupakan pihak yang paling dekat dengan pasien, karena keluarga dan pasien memiliki hubungan yang sudah terjalin dalam waktu yang lama dan tidak hanya terbatas pada hubungan pemberian bantuan. Disamping itu keluarga mengenal pasien bukan sebagai orang luar (lain). Pengetahuan akan hal ini padat dipakai dalam hubungan perawatan dengan pasien. Jadi mengikutsertakan keluarga, aka sangat bermanfaat bagi pasien maupun bagi perawat. Oleh karena itu penting sekali untuk mengikutsertakan keluarga jika hal ini memang diharapkan. Dan ini dapat dilakukan dalam berbagai cara :

  1. a.      Keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien untuk ikut membicarakan dan memiliki

Dengan cara ini keluarga dapat memberi masukan bagi perawatan yang diberikan dan cara pendekatan yang ideal terhadap pasien yang sedang dalam proses perawatan. Hal ini telah berlangsung di rumah-rumah sakit psikogeriatrik. Di sini pengaruh keluarga melalui praktik – praktik keluarga lebih besar jika dibanding dengan rumah perawatan somatis. Juga terlihat bahwa keterlibatan keluarga akan berkurang jika mereka tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sehinnga perawatan di rumah sakit menjadi lebih lama atau keadaan jiwa pasien makin menurun. Dengan memanfaatkan cara yang benar atas informasi yang diberikan oleh keluarga tentang kehidupan masa lalu pasien, maka perawatan dapat dilanjutkan dengan lebih baik dalam memnuhi permintaan pribadi maupun kebutuhannya.

Melalui cara ini pasien akan memperoleh perawatan yang lebih baik dan keluarga merasa bahwa mereka diperhatikan secara tepat. Kita menganjurkan agar keluarga dan pasien sebanyak mungkin terlibat dalam pengembangan tujuan perawatan, baik dalam tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Dengan cara ini dapat dihindari terjadinya keadaan dimana tujuan perawatan sama sekali berbeda denga tujuan yang diinginkan oleh keluarga. Kita harus menganggap keluarga pasien juga merupakan bagian dari keluarga kita sendiri. Selalu memberikan yang terbaik bagi pasien dan berusah mencapai hal yang terbaik bagi pasien tersebut. Dalam perawatan pasien somatis, situasinya mungkin agak berbeda. Mereka pada umumnya lebih mampu untuk mnegungkapkan perasaan dan keinginannya. Dan juga dalam hal ini dapat juga diusahakan agar pasien maupu keluarganya diikutsertakan berfikir dan brbicara tentang cara pelaksanaannya. Hal ini harus dilakukan atas dasar partisipasi yang seimbang, dimana masing – masing berdasarkan keahliannya member masukan – masukan yang diperluakan.

  1. b.      Mengikutsertakan keluarga dalam perawatan pasien dengan ikut bekerja

Keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien dapat kita tingkatkan melalui penugasan keluarga untuk menjalankan asistensi dalam perawatan. Ini biasanya menimbulkan pertentangan pada perawatan, karena mereka takut akan selalu diteliti dan kehilangan kebebasannya. Kita sebenarnya harus sadar bahwa masalah asistensi keluarga dalam perawatan merupakan suatu kemungkinan yang baik untuk direalisasikan antara keluarga dan pesiennya, dan harus diusahakan agar tetap dapat berjalan. Dan penting disini adalah baik pasien maupun keluarganya harus sama – sama mau. Jadi jangan hanya karena perawat yang menginginkan maka keluarag menjalankan asistensi ini., atau pasien diberiakan kesempatan ini agar keluarganya merasa senang. Jadi harus diusahakan ada pembahasan antara pasien dan keluarga saja tentang yang dapat dan tak dapat dilakukan keluarga, atau boleh dan ingin dilakukan. Pasien dalam pembahasan ini dengan sendirinya akan mempunyai peranan yang penting.

Dapat juga terjadi bahwa baik pasien atau keluarganya sama sekali merasa tak perlu adanya bantuan dari keluarga. Hingga pada akhirnya perawatan ini sebaiknya jangan mengiutsertakan keluarga. Juga dalam perawatan jangan sekali – kali mengikutsrtakan keluarga dengan cara merendahkan dengan mengisi daftar tugas. Dengan kata lain perawatan harus direalisasikan dengan suatu cara. Jangan sampai pengikutsertaan keluarga hanya ditujukan pada perawatan untuk mengambil alih tugas perawat. Teknik – teknik perawatn berjalan dalam batas – batas perawatan. Ini berarti bahwa keluarga tersebut tidak boleh dituntut persyaratan suatu pendidikan tertentu. Perawat dapat bersama – sama dengan keluarga melaksanakan perawatan sebagaimana yang akan mereka lakukan jika pasien itu dirawat di rumah. Tugas – tugas yang dapat dilakukan oleh keluarga antara lain :

  • Membantu saat makan dan minum
  • Membantu saat memandikan
  • Membantu saat ke toilet
  • Membantu saat bergerak dan berpindah
  • Membantu pada saat melakukan aktivitas relaksasi
  1. F.     Berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya

Berkomunikasi dengan pasien

Penyakit dan hospitalisasi menimbulkan stres, seringkali merupakan pengalaman yang sangat menangkutkan bagian dan keluarga. Perawat barada disamping pasien dan keluarganya. Perawat berada disamping pasien untuk membantu pasien melalui pengalaman ini. Komunikasi yang baik, jelas, dan mendukung adalah bagian penting dari bantuan yang diberikan. Ketika anda pertama kali bertemu pasien, katakana, :”saya disini untuk membantu anda.” Juga dengan segera member tahu pasien siapa Anda: “saya Corpus, perawat Anda”. Kemudian setiap waktu anda memasuki ruangan pasien, ambil kesempatan untuk berkomunikasi. Senyum Anda, perhatian dan kesiapan Anda untuk berhubunganakan memudahkan penyesuaian pasien dirumah sakit. Ikuti pedoman dasar berikut untuk berkomunikasi dengan pasien:

Mendengarkan pasien

  • Mulai percakapan dengan pasien dengan menggunakan pertanyaan terbuka seperti dibawah ini:

“bagaimana perasaan Anda hari ini?”

“kemarin Anda merasa sangat khawatir, bagaimana dengan hari ini?”

  • Konsentrasi pada pasien dan jangan membiarkan hal ini mengalihkan perhatian anda
  • Gunakan mata anda, ekspresi wajah, dan tekanan suara untuk menunjukkan minat. Coba untuk tidak menginterupsi. Biarkan pasien mengatakan apa yang perlu ia katakana
  • Jika pasien tidak jelas, ajukan pertanyaan untuk mendapatkan lebih banyak informasi atau menjelaskan apa yang dikatakan.
  • Dengarkan pada apa yang dikatakan pasien dan juga bagaimana ia mengatakan dan apa yang tidak dikatakan
  • Perhatikan ekspresi wajah pasien, dan sikap tubuh dan gerakan tubuh. Kadang wajah atau tekanan suara, atau cara bicara dapat mengatakan lebih banyak daripada kata-kata

Simpan kerahasiaan apa yang dikatakan pasien

Jika informasi dari pasien perlu diberikan pada orang lain dalam upaya mendolong pasien, biarkan pasien mengetahui apa yang akan Anda katakana pada orang tersebut. Sebagai contoh, jika pasien mengatakan pada Anda tentang gejala yang tidak ia rasakan sebelumnya, beritahu pasien bahwa Anda akan memberitahu dokter. Bila informasi tidak bermanfaat dalam membantu oasien, jangan bergosip tentang pasien dengan staf lain.

Tempatkan diri Anda sebagai pasien dan coba untuk memahami apa yang dirasakannya

Peraturan yang paling penting dalam berkomunikasi dengan pasien adalah membayangkan diri anda berada pada posisi pasien. Kemudian anda dapat memahami perasaan mereka dan menanggapi secara emosional pada kebutuhan atau distress mereka.

Kuncinya adalah perhatian terhadap pasien sebagai individu, untuk mengenali bahwa ia adalah makhluk hidup seperti anda, yang sakit dan mudah nyeri, yang membutuhkan bantuan anda. Untuk mengekspresikan perhatian ini, tunjukan kehangatan dan minat anda bersama klien. Bersikap perhatian dan menghargai. Coba untuk memenuhi kebutuhan pasien dan berespon terhadap perasaannya.

Ingat bahwa jika anda baik pada orang lain, hal ini akan memperkaya baik hidup orang tersebut maupun hidup anda sendiri.

i)        Bagaimana berkomunikasi dengan pasien yang sulit

Ketika pasien marah, penting untuk mencoba menemukan apa ya ng menyebabkan mereka marah

Unting untuk mendengarkan dan berespon dengan memahami nyeri dan kesulitan pasien

Bila pasien tampak mempunyai keluhan yang jelas, katakana bahwa anda akan memberitahu perawat atau dokter yang bertugas

Jika pasien terus-menerus mengeluh, anda dapat menenangkan dengan suara lembut, membiarkan ia mengeluh, dan mungkin menggunakan humor atau senyuman untuk membantu.

ii)      Berespons terhadap kebutuhan pasien

Pasien merasa diperhatikan ketika anda mencoba untuk membuat mereka merasa lebih baik dengan melakukan sesuatu seperti membawakan air ketike mereka memintanya

Senyuman atau sentuhan yang menunjukan perhatian dan kekhawatiran terhadap kebutuhan mereka akan selalu membantu.

Ketika pasien memberikan anda informasi tentang kondisi fisiknya, dengarkan dengan cermat dan bertindak cepat terhadap informasi tersebut.

Bila pasien mengatakan mengalami nyeri, kaji nyeri dan berikan pereda.

Bila pasien mengatakan pada anda tentang masalah baru, yakinkan bahwa anda mempunyai informasi  penting dan berespon dengan cepat

iii)    Memberikan  informasi  kepada pasien

Ketika anda memberikan informasi kepada pasien, hendaknya sederhana dan jelas, selalu tulus dan jujur

Jangan berpura-pura bahwa anda mengetahui sesuatu ketika anda tidak mengetahuinya

Jangan pernah berbohong kepada pasien

Ketepatan waktu informasi adalah penting

iv)    Bagaimana memberitahu pasien kabar buruk

Salah satu tugas berat dokter dan perawat adalah memberitahu kabar buruk pada pasien. Penting bagi perawat dan dokter untuk bicara dan menyetujui tentang bagaimana dan kapan memberitahu pasien. Kadang kebenaran sejati telalu berat bagi pasien. Kadang mungkin lebih baik untuk memberitahu individu sedikit informasi tentang apa yang terjadi dimasa depan. Penting untuk mengetahui bagaimana pasien memahami dan seberapa besar ia ingin memahami. Pendekatan paling baik adalah memberitahu individu sebanyak yang mereka ingin tahu, dan kemudian mencoba untuk membantu mereka menghadapi perasaan mereka.

Ketika individu diberitahu kabar buruk, pada awalnya mereka sering tidak ingin mempercayainya. Ini disebut penyangkalan. Penyangkalan bermanfaat sebagai respon pertama, untik membantu pasien mengatasi masalah. Namun, perawat perlu membantu pasien bergerak dari penyangkalan.  Individu perlu memahami bahwa situasi tersebut nyata. Dengan perlahan pasien diberitahutentang apa yang terjadi. Ketika pasien memahami apa yang akan terjadi, mereka mengalami sedih dan depresi. Mengenali kesedihan dan respon mereka dengan sikap simpatik adalah penting. Juga penting untuk memberi harapan tetapi anda seharusnya tidak memberi mereka informasi yang salah untuk membuat mereka merasa lebih baik. Untuk memberi mereka harapan, anda dapat membicarakan tentang apa yang mungkin, bukan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Anda juga dapat memberi pasien harapan dengan memberitahu mereka bahwa mereka akan memiliki hal baik dimasa depan yang akan membuat mereka mampu melakukan banyak hal.

v)      Pasien yang mengalami kesulitan berkomunikasi

Kadang pasien tidak dapat berkomunikasi dengan jelas. Mereka mungkin tidak berbicara dengan bahasa yang digunakan dirumah sakit, atau mereka mungkin hanya mampu bahasa tersebut sedikit. Anda dapat menemui anggota keluarga mereka untuk membantu, atau anggota staf lain yang dapat berbicara dalam bahasa asal pasien

Anda dapat bekerja dengan penerjemah yang mengetahui kedua bahasa dan menerjemahkan pernyataan anda dan jawaban klien

Kadang pasien tuli, buta, atau penglihatan buruk. Bila pasien tidak dapat mendengar dengan baik, perhatikan apakah mereka membaca bibir anda atau apakah mereka mencoba untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Bila mereka menggunakan tangan mereka untuk berkomunikasi dan anda tidak memahami, coba minta bantuan anggota keluarga.

Kadang pasien bingung atau tidak dapat membentuk kata-kata, atau menemukan kata yang tepat. Ketika seseorang mempunyai selang terpasang, ia tidak dapat bicara sama sekali. Pada pasien ini coba untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata. Minta pasien untuk memberi tanda ya atau tidak terhadap pertanyaan dengan menggunakan genggaman tangan, atau gerakan  kepala atau kedipan mata. Atau berikan pasien kertas atau papan untuk menulis.

Jika pasien mencoba untuk berkomunikasi tetapi anda tidak memahami, katakan bahwa anda tidak memahami, tetapi berikan dukungan dan dorongan, dan lanjutkan percakapan. Jangan berpura-pura memahami ketika anda tidak memahaminya.

Ketika pasien tidak dapat berkomunikasi dengan anda melalui kata-kata, secara khusus penting bagi anda untuk menunjukan perhatian, kehangatan, dan respek melalui sentuhan dan senyuman anda.

Bagaimana berkomunikasi dengan keluarga

Keluarga pasien harus membuat banyak penyesuaian dan perubahan dalam berespon terhadap penyakit, terutama bila ini penyakit terminal. Sebagai contoh, mereka harus memberikan banyak waktu untuk melakukan tugas yang menjadi tugas pasien dalam keluarga sebelum sakit. Mereka juga harus menyediakan waktu untuk berkunjung dan mencoba merawat si sakit, baik di rumah sakit maupun kembali kerumah. Mereka juga kehilangan uang karena keadaan sakit ini. Anggota keluarga dapat mengalami banyak stress. Hal ini dadap membuat mereka marah dan sulit saat itu. Ketika ini terjadi, penting untuk memikirkan seberapa sulit situasi ini bagi mereka.

Sediakan waktu untuk bicara pada keluarga pasien segera saat pasien masuk rumah sakit; makin cepat makin baik. Jawab pertanyaan mereka dengan sederhana tetapi jelas. Bila mereka menginginkan lebih banyak informasi dari yang anda dapat berikan, rujuk pada dokter atau bantu menemukan waktu untuk dapat berbicara dengan dokter. Tanyakan pada keluarga tentang pasien; anggota keluarga mempunyai banyak informasi yang bermanfaat.

Kapan pun keluarga datang menjenguk, beri tahu mereka apa yang telah terjadi pada anggota keluarga mereka. Berikan dukungan dan dorongan. Jangan berbohong pada keluarga. Bila mereka ingin tahu lebih banyak dari yang anda kira, coba untuk membantu mereka berbicara dengan dokter.

Bila berita buruk, anda dapat memberi tahu keluarga lebih dulu dan meminta mereka untuk memberi tahu pasien. Anda dapat memutuskan dengan dokter bahwa pasien harus diberi tahu lebih dulu, dan kemudian keluarga. Kadang keluarga ingin membantu memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap anggota keluarga mereka.

Bila anggota keluarga ingin tinggal dengan pasien, buat hal ini semudah mungkin. Jika keluarga ingin membantu merawat pasien, beri mereka instruksi dalam pemberian perawatan harian.

Sebelum pasien meninggalkan rumah sakit, bicarakan pada keluarga tentang perawatan yang diperlukan pasien dirumah. Yakinkan mereka mampu memberikannya.

Masalah Etik Perawat dengan Keluarga Pasien

Seorang perawat mungkin menghadapi masalah baik dengan pasien maupun keluarga pasien. Dalam menghadapi masalah – masalah tersebut perawat seharusnya tetap berada dalam etika professional keperawatan.

  • Contoh :
    • Pada contoh kasus seorang pasien yang mengalami stroke sehinnga mengakibatkan koma. Pasien tersebut dapat hidup hanya karena adanya bantuan alat. Pesien tersebut hidupnya hanya bergantung pada alat kesehatan,, jika peralatan tersebut dilepas maka pesien tersebut akan meninggal dunia. Sedangkan ketika hal ini di jelaskan kepada keluarga pasien, keluarga pasien mengeluh tidak kuat membiayai pengobatan pasien tersebut. Sehingga dalam hal ini muncullah dilema etik antara dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya.
  • Pertanyaan :
    • Bagaimana penyelesaian masalah tersebut dan bagaimana peran perawat dalam hubungannya berkomunikasi dengan keluarga pasien.
  • Untuk menjawab pertanyaan tersebut kmi melampirkan role play yang akan menggambarkan bgaimana masalah tersebut terjadi dan bagaimana penyelesaiannya.