1. I.       Pengertian Transplantasi Organ.

Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat.
Ini adalah terapi pengganti (alternatif) atau bahkan bisa dikatakan sebagai jalan pintas yang merupakan upaya terbaik untuk menolong pasien dengan kegagalan organnya, karena hasilnya lebih memuaskan dibandingkan dan hingga dewasa ini terus berkembang dalam dunia kedokteran, namun tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu saja,karena masih harus dipertimbangkan dari segi non medik, yaitu dari segi agama, hukum, budaya, etika dan moral. Kendala lain yang dihadapi Indonesia dewasa ini dalam menetapkan terapi transplantasi, adalah terbatasnya jumlah donor keluarga (Living Related Donor,LRD)dan donasi organ jenazah.karena itu diperlukan kerjasama yang saling mendukung antara para pakar terkait (hukum, kedokteran, sosiologi, pemuka agama, dan pemuka masyarakat),pemerintah dan swasta.

  1. II.    Jenis – Jenis Transplantasi Organ

 

Kini telah dikenal beberapa jenis transplantasi atau pencangkokan, baik berupa sel, jaringan maupun organ tubuh yaitu sebagai berikut:

  1. Transplantasi Autologus

Yaitu perpindahan dari satu tempat ketempat lain dalam tubuh itu sendiri, yang     dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi.

  1. Transplantasi Alogenik

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang sama spesiesnya,baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga.

  1. Transplantasi Singenik

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang identik,misalnya pada gambar identik.

  1. Transplantasi Xenograft

Yaitu perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang tidak sama spesiesnya.
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana meninggal sendiri didefinisikan kematian batang otak.

  • Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti : kulit ginjal sumsum tulang dan darah (transfusi darah).
  • Organ-organ yang diambil dari jenazah adalah jantung,hati,ginjal,kornea,pancreas,paru-paru dan sel otak.
    Dalam 2 dasawarsa terakhir telah dikembangkan tehnik transplantasi seperti transplantasi arteria mamaria interna dalam operasi lintas koroner oleh George E. Green. dan Parkinson.
  1. III.       Pengertian Transplantasi ginjal

Transplantasi ginjal atau biasa disebut dengan cangkok ginjal sudah berlangsung di dunia kedokteran sejak 40 tahun yang lalu, di Indonesia dipelopori oleh Prof. Sidabutar dan Tim Transplantasi Ginjal (1977) RSCM/FKUI. Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara “memanfaatkan” sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal ‘cangkokan’ ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak.

Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan tetap berada pada posisinya semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.

Tujuan transplantasi ginjal adalah untuk mempertahankan kualitas hidup pasienpenyakit ginjal kronik tahap akhir memperpanjangusia atau harapan hidup tanpa tergantung pada tindakan hemodialisis kronik (cuci darah). Dan juga mengurangi biaya pengobatan untuk jangka panjang. Berdasarkan data Amerika (United Network)for Organ Sharing,2001) didapat angka harapan hidup setelah 5 tahun sebesar 81%dari donor cadaver (jenazah) dan 91% dari donor hidup, data ini menunjukkan bahwa transplantasi ginjalmenunjukkan angka keberhasilan sangat tinggi satu decade kebelakang.

IV.   Tata Cara Transplantasi Ginjal

Persiapan untuk transplantasi ginjal dimulai jauh sebelum fase segera dilakukan pembedahan. Persiapan ini termasuk pengkajian dari intervensi yang berkenaan denagan tingkat ansietas pasien, pengetahuan tentang prosedur transplant dan status fisiologis. Pada fase praoperasi segera, persiapan termasuk pemeriksaan darah lengkap, elektrokardiogram, foto dada, dan dialysis dalam 24 jam pembedahan. Dialysis ini untuk mengembalikan kimia darah ke kadar mendekati senormal mungkin, memperbaiki perubahan agergasi trombosit yang ditimbulka oleh uremia, dan mengeluarka kelebihan cairan. Immunosupresi mungkin diberikan sebelum pembedahan. Besarnya waktu yang tersedia untuk melengkapi persiapan ini sangat ditentukan oleh sumber donor. Bila tersedia donor hidup, persiapan dapat dilakukan seharian sebelum transplantasi, sementara dengan donor mayat semua persiapan harus selesai dalam beberapa jam.

Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari ginjal ‘baru’ ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar.

Resipien transplan biasanya dirawat dalam area lengkap yang dirancang secara khusus baik fase penyembuhan akut maupun pemulihan. Hal ini mengurangi pemindahan pasien, menurunkan fragmentasi perawatan, dan menurunkan pemajanan terhadap infeksi bagi pasien yang mengalami imunosupresi ini. Resipien transplant biasanya tidak sakit secara kritis dan oleh karenanya sering kali tidak mempunyai criteria yang sesuai untuk diterima di area perawtan kritis. Meskipun demikian, kadang-kadang pasien trasplan akan di rawat di area perawatan kritis, terutama bila terjadi komplikasi selama fase pascaoperasi.

Kriteria Pemilihan untuk Transplantasi Ginjal:

  1. Usia dievaluasi secara individual, meskipun resipien biasanya lebih muda dari 60 tahun. Mereka yang lebih tua dari 50 tahun mungkin akan beresiko mengalami komplikasi. Anak-anak yang berusia lebih muda dari 5 tahun di pertimbangkan masuk pada pusat pediatric.
  2. Penyakit gastrointestinal, penyakit hati, dan infeksi akut atau kronik termasuk AIDS harus tidak ada atau telah di obati.
  3. Pasien harus mempunyai motivasi untuk transplantasi.
  4. V.          Faktor – Faktor Keberhasilan Pasien Transplantasi Ginjal

            Dari yang telah dijabarkan diatas diketahui bahwa tingkat keberhasilan transplantasi ginjal sangat tinggi, hal tersebut dipengaruhi dengan:

  1. a.      Donor Keluarga, Lebih Berhasil. Resiko pasti akan ada dalam setiap tindakan transplantasi. Dengan ditanamkan organ             baru, maka akan dianggap benda asing oleh tubuh. Sistem imun membuat antibody    mencoba membunuh organ baru, meski menguntungkan tubuh. Medikasi diberikan            agar system imun menerima hasil tranplan dan bukan menganggapnya benda asing. Obat yang diberikan antara lain  cyclosporine, tacrolimus, azathioprine,                                   mycophenolate mofetil, prednisone, OKT3, dan antithymocyte Ig (ATGAM).
  2. Idealnya dalam mempersiapkan pasien untuk transplantasi ginjal sebaiknya dilakukan jauh sebelum memulai program awal tindakan (inisisasi) terapi pengganti seperti hemodialisis kronik (cuci darah).
  3. Diketahuinya penyakit ginjal kronik tahap akhir sedini mungkin akan memudahkan evaluasi perioperatif (sebelum operasi dan pengawasan pasien).
  4. Setiap pasien dapat menetapkan dirinya siap mengikuti program transplantasi ginjal sebagai terapi definitive dan bukan sekedar mendapatkan terapi pengganti seperti hemodialisis kronik.
  5. Adanya pertimbangan keberhasilan dengan cara pengukuran parameter harapan hidup (berbagai aspek medis dan nonmedis) pasien dan parameter fungsi ginjal pasca pembedahan.

Transplantasi Ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai   ‘penyaring darah’ sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan           tindakan Dialisis (cuci darah).

Tindakan pencegahan infeksi:

  • Mencuci tangan dengan bersih sebelum dan sesudah merawat pasien adalah cara    efektif  untuk menurunkan organisme di lingkungan resipien.
  • Membersihkan kateter dan perineum sekitar meatus uretra dengan sabun dan air setiap 8  jam menurunkan infeksi traktus urinarius.
  • Mengganti selang intravena setiap hari demikian halnya bila terkontaminasi juga akan menurunkan resiko sepsis
  • Mengganti balutan yang basah dengan sering akan menyingkirkan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organism.

Evaluasi Pasien Transplantasi:

Evaluasi pasien transplantasi ginjal mengenali factor-faktor yang mempengaruhi transplantasi yaitu: factor resipien (penerima ginjal ),  imunologi (kecocokan genetika darah) dan  factor persiapan sebelum dan sesudah transplantasi ginjal

Dari factor-faktor diatas adalah menjelaskan tentang hal-hal yang wajib dipahami resipien antara lain informasi menyeluruh mengenai transplantasi ginjal dan masalah-masalah yang terkait seperrti menfaat dan resiko dan komplikasi. Selain itu juga mengetahui informasi terkini mengenai reaksi  rejeksi (penolakan) jika hal tersebut terjadi. Pada akhir proses edukasi sebaiknya resipien juga mendapatkan pemahaman mengenai perubahan kesehatan pada masa yang akan datang guna mendapatkan pengertian dan kenyamanan pasca transplantasi ginjal. Aspek lain seperti aspek medis yang relevan terhadap perawatan pasca operasi dan evaluasi imunologi akan dibicarakan kemudian.

Sampai saat ini pesiapan transplantasi ginjal dilakukan di pusat-pusat transplantasi ginjal dengan tim lengkap. Pada masa yang akan datang, akan semakin bertambah seiring kebutuhan transplantasi yang meningkat dengan tetap mempertimbangkan aspek legal yang berlaku di Indonesia. Kendala lain yang dihadapi adalah biaya yng cukup besar dan donor jenazah yang belum mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat.

Evaluasi rutin dan persiapan meliputi :

  • Penggolongan ABO
  • Typing ( pencocokan ) Jaringan
  • Riwayat transfuse
  • Tes kulit untuk Tuberkulosis
  • Screaning Hepatitis
  • Screaning HIV
  • Pemeriksaan fungsi Hepar
  • Hitung leukosit dan trombosit 3 X
  • Pemberian vaksin Pneumovak bila pasien tidak pernah menerimanya
  • Foto thoraks
  • Evaluasi gigi untuk meyingkirkan adanya infeksi
  • Pemeriksaan Ginekologi
  • Riwayat social, review motifasi pasien, dan kemampuan untuk mengikuti regimen pasca operasi, kemungkinan evaluasi Psikologikal

Pemberian terapi imunnosupresi

Ginjal yang ditransplasikan merupakan antigen asing yang ditanam pada resipien. Akhirnya, tubuh resipien akan mengenali ginjal sebagai antigan asing dan menggerakan system perlawanan untuk mencoba membebaskan diri dari benda asing ini. Oleh karenanya terapi imunosupresi diperlukan untuk menekan respon imun sehingga memungkinkan penerimaan organ yang ditanam, paling sering dengan tipe jaringn yang sedikit berbeda sebagian dari yang dimiliki resipien kesulitan dari terapi ini adalah dalam pemberian supresi yang cukup untuk mencegah penolakan tanpa menyebabkan resipien sangat rentan terhadap infeksi oportunistik. Biasanya obat yang diberikan untuk mengontrol respon imun antara lain Metil Prednisolon, Prednison, Azatioprin, siklosporin dll.

  1. VI.       Kendala – Kendala Transplantasi Ginjal
  2. Pendonor. Untuk pendonor, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hidup dengan satu ginjal.  “Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan  menjadi donor karena setiap orang bisa tetap hidup normal dengan satu ginjal,” Keterbatasan donor menjadi salah satu penyebab transplantasi sulit dilakukan.  Jumlah donor di Indonesia masih sangat kecil, hanya 15 donor ginjal per tahunnya, dibandingkan dengan 2.000 kasus baru penyakit ginjal kronik tahap akhir per tahunnya.
  3. Biaya. Kendala lain untuk melakukan transplantasi ginjal adalah dari sisi biaya. Cukup banyak pasien yang tidak memiliki biaya transplantasi, meski sudah ada keluarga yang mau menjadi donor. Namun menurut Dr. Indrawati Sukadis, Koordinator Tim Transplantasi Ginjal RS Cikini, biaya transplantasi ginjal di dalam negeri lebih rendah dibandingkan di luar negeri. “Subsidi biaya operasi transplantasi dan sebagian obat imunosupresif dari ASKES meringankan beban biaya transplantasi,” ujarnya.  Indrawati mendapatkan kesimpulan tersebut dari penelitian yang dilakukan bersama koleganya dengan mewawancarai 20 pasien pasca transplantasi ginjal antara tahun 1996 hingga 2006. Sebanyak 15 pasien menjalani transplantasi di dalam negeri (10 orang di RS Cikini dan 5 pasien dari rumah sakit lainnya), dan 5 pasien menjalani transolantasi di luar negeri yaitu China dan Singapore.  Data yang dicatat adalah total biaya transplantasi ginjal termasuk biaya persiapan, perawatan preoperative, operative, dan pasca operative, lama perawatan, dan summer donor. Namun tidak termasuk obat imunosupresif, obat induksi, obat kegawatan, dan HD bila diperlukan.
  4. VII.    Peran Perawat pada Transplantasi ginjal

Perawat perawatan kritis adalah bagian integral dari tim pendonoran. Hampir semua donor organ mati di unit perawatan kritis; jadi perawat perawatan kritis adalah orang kunci dalam mengidentifikasi donor potensial. Lebih jauh lagi, perawat memainkan peran penting sebagai advokad untuk memastikan bahwa semua upaya dibuat untuk menentukan dan bertindak atas keinginan pasien berkenaan dengan pendonoran. Perawat juga berperan vital dalam mendukung keluarga secara psikologis, terutama saat mereka mencoba menerima donor mayat. Bila keputusan dibuat untuk donor organ, perawat juga memainkan peran yang penting dalam mendukung donor secara fisiologis.

Saat merawat donor potensial, penting untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik sehingga organ vital mendapat perfusi adekuat. Untuk melakukan ini, keadaan hipotensi harus pertama diatasi dengan pemberian cairan dan plasma expander. Selanjutnya bila diperlukan vasopresor, diberikan dopamin dalam dosis kurang dari 10 µg/kg untuk mempertahankan tekanan darah sistolik diatas 100 mmHg. Bila vasopresor diperlukan untuk mempertahankan tekanan darah selama lebih dari 24 jam, maka pendonoran ginjal mungkin dihindari.

Juga penting untuk mengkaji saluran urin tiap jam untuk mendeteksi diabetes insipidus. Hal ini umum terjadi pada donor organ dan berkaitan dengan kegagalan pituitary posterior untuk membentuk atau melepaskan hormone antidiuretic. Mungkin diberikan vasopressin aquosa atau desmopressin asetat untuk menurunkan saluran urin dan membantu mempertahankan keseimbangan cairan.

VIII.    Contoh Kasus Transplantasi Ginjal

           Perjuangan, Natalie Cole dalam melawan penyakit masih terus diuji. Setelah sebelumnya divonis mengidap penyakit Hepatitis C di tahun 2008, kini penyanyi berkulit hitam tersebut didiagnosa mengalami gagal ginjal. Saat ini dirinya sedang menanti seorang pendonor. Vonis gagal ginjal diterima saat Ia sedang menjalani perawatan untuk penyakit Hepatitis C yang dideritanya. Secara rutin, tiga kali dalam seminggu Ia harus memeriksakan diri untuk penyakit ginjalnya. Namun penyakit itu hanya bisa disembuhkan bila ia menerima transplantasi ginjal. Semula, puteranya Robert, bersedia menjadi pendonor ginjal bagi sang Ibu. Namun sayangnya hasil check up menunjukan bahwa lelaki berusia 31 tahun tersebut tidak memenuhi syarat untuk mendonorkan ginjalnya.
         “Ini bukan sekedar tes darah. Tidak hanya menunjukan golongan darah Anda B negatif dan saya B positif. Tapi kesehatan Anda harus benar-benar dalam kondisi baik secara keseluruhan. Ada beberapa persyaratan yang harus mereka miliki,” ungkap penyanyi berusia 59 tahun tersebut. Meskipun demikian, Natalie tak pernah berhenti berharap untuk mendapatkan transplantasi ginjal. Belum lama ini, berkat acara televisi di Amerika Serikat yang dipandu presenter Larry King, Nicole mendapat kiriman emailyang bertumpuk dari para penonton di sana. Banyak dari mereka yang bersedia mendonorkan ginjal untuk dirinya. Nicole tak menduga masih banyak orang yang peduli dan mendukungnya. Ia pun hanya bisa melayangkan terima kasih atas semua tawaran yang diberikannya. “Saya hanya merasa aneh jika harus memohon ginjal kepada orang yang tidak saya kenal,” ungkapnya.  ”Meskipun demikian mereka orang-orang yang luar biasa. Ternyata masih banyak orang-orang baik di luar sana. Hanya itu yang bisa saya katakan, ” ucapnya seraya berterima kasih.           LOS ANGELES – Perjuangan penyanyi pop Natalie Cole mencari ginjal baru akhirnya berhasil. Cole mendapat ginjal yang cocok dari seorang penggemarnya. Cole sendiri telah menjalani operasi transplantasi di rumah sakit Cedars Sinai Los Angeles pada Selasa lalu. Pada Kamis waktu setempat, juru bicaranya menyatakan, Cole dalam kondisi baik dan sudah dapat merespons pembicaraaan pascaoperasi. Agen pengadaan organ dari South Carolina, OneLegacy, sudah sejak lama melakukan pencarian dan pengecekan terhadap para donor yang memiliki ginjal dengan karakter yang sama dengan Cole. “Ada donor yang langsung ingin memberikan ginjalnya,” ungkap Tom Mone, CEO OneLegacy seperti dikutip CNN, Jumat (22/5/2009). Namun pihak OneLegacy masih menyembunyikan identitas orang yang mendonorkan ginjalnya itu hingga mendapat izin dari keluarga. Natalie Cole mencari donor ginjal sejak dokter mengatakan penyakit Hepatitis C yang dideritanya menyebabkan dua ginjal Cole tidak berfungsi maksimal. Peraih dua Grammy Award 2009 itu menyampaikan keluhannya pada acara talk show CNN, Larry King, pada Maret lalu. Pada kesempatan itu, Cole juga menceritakan perjuangannya melawan penggunaan obat terlarang.

 

IX. Pandangan Transplantasi Organ Menurut Agama, Hukum, dan Kesehatan

Menurut Agama

  1. 1.                  Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup :

Syara’ membolehkan seseorang pada saat hidupnya –dengan sukarela tanpa ada paksaan siapa pun– untuk meny­umbangkan sebuah organ tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang disumbangkan itu, seperti tangan atau ginjal. Ketentuan itu dikarenakan adanya hak bagi seseorang –yang tangannya terpotong, atau tercongkel matanya akibat perbuatan orang lain– untuk mengambil diyat (tebusan), atau memaafkan orang lain yang telah memotong tangannya atau mencongkel matanya. Memaafkan pemotongan tangan atau pencongkelan mata, hakekatnya adalah tindakan menyumbangkan diyat. Sedangkan penyumbangan diyat itu berarti menetapkan adanya pemilikan diyat, yang berarti pula menetapkan adanya pemilikan organ tubuh yang akan disumbangkan dengan diyatnya itu. Adanya hak milik orang tersebut terhadap organ-organ tubuhnya berarti telah memberinya hak untuk memanfaatkan organ-organ tersebut, yang berarti ada kemubahan menyumbang­kan organ tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan organ tersebut. Dan dalam hal ini Allah SWT telah membolehkan memberi­kan maaf dalam masalah qishash dan berbagai diyat. Allah SWT berfirman :

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudara­nya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah : 178)

Islam memerintahkan agar setiap penyakit diobati. Membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh dapat berakibat fatal, yaitu kematian. Membiarkan diri terjerumus pada kematian adalah perbuatan terlarang,

وَلاَتَـقْـتُـلُوْا اَنْـفُسَهُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ( النسآء : 29 )

“… dan janganlah kamu membunuh dirimu ! Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa 4: 29)

Syarat-Syarat Penyumbangan Organ Tubuh Bagi Donor Hidup

Syarat bagi kemubahan menyumbangkan organ tubuh pada saat seseorang masih hidup, ialah bahwa organ yang disum­bangkan bukan merupakan organ vital yang menentukan kelang­sungan hidup pihak penyumbang, seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru. Hal ini dikarenakan penyumbangan organ-organ tersebut akan mengakibatkan kematian pihak penyumbang, yang berarti dia telah membunuh dirinya sendiri. Padahal seseorang tidak dibolehkan membunuh dirinya sendiri atau meminta dengan sukarela kepada orang lain untuk membunuh dirinya. Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An Nisaa’ : 29)

Allah SWT berfirman pula :

“…dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al An’aam : 151)

Keharaman membunuh orang yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) ini mencakup membunuh orang lain dan membunuh diri sendiri. Imam Muslim meriwayatkan dari Tsabit bin Adl Dlahaak RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “…dan siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu (alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang terse­but dengan alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.”

2. Hukum Transplantasi Dari Donor Yang Telah Meninggal :

Hukum tranplanstasi organ dari seseorang yang telah mati berbeda dengan hukum transplantasi organ dari seseorang yang masih hidup. Untuk mendapatkan kejelasan hukum trasnplantasi organ dari donor yang sudah meninggal ini, terlebih dahulu harus diketahui hukum pemilikan tubuh mayat, hukum kehormatan mayat, dan hukum keadaan darurat. Mengenai hukum pemilikan tubuh seseorang yang telah meninggal, kami berpendapat bahwa tubuh orang tersebut tidak lagi dimiliki oleh seorang pun. Sebab dengan sekedar mening­galnya seseorang, sebenarnya dia tidak lagi memiliki atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya, tubuh­nya, ataupun isterinya. Oleh karena itu dia tidak lagi berhak memanfaatkan tubuhnya, sehingga dia tidak berhak pula untuk menyumbangkan salah satu organ tubuhnya atau mewasiat­kan penyumbangan organ tubuhnya. Berdasarkan hal ini, maka seseorang yang sudah mati tidak dibolehkan menyumbangkan organ tubuhnya dan tidak dibenarkan pula berwasiat untuk menyumbangkannya. Sedangkan mengenai kemubahan mewasiatkan sebagian hartanya, kendatipun harta bendanya sudah di luar kepemili­kannya sejak dia meninggal, hal ini karena Asy Syari’ (Allah) telah mengizinkan seseorang untuk mewasiatkan seba­gian hartanya hingga sepertiga tanpa seizin ahli warisnya. Jika lebih dari sepertiga, harus seizin ahli warisnya. Adanya izin dari Asy Syari’ hanya khusus untuk masalah harta benda dan tidak mencakup hal-hal lain. Izin ini tidak men­cakup pewasiatan tubuhnya. Karena itu dia tidak berhak berwasiat untuk menyumbangkan salah satu organ tubuhnya setelah kematiannya.

Mengenai hak ahli waris, maka Allah SWT telah mewaris­kan kepada mereka harta benda si mayit, bukan tubuhnya. Dengan demikian, para ahli waris tidak berhak menyumbangkan salah satu organ tubuh si mayit, karena mereka tidak memi­liki tubuh si mayit, sebagaimana mereka juga tidak berhak memanfaatkan tubuh si mayit tersebut. Padahal syarat sah menyumbangkan sesuatu benda, adalah bahwa pihak penyumbang berstatus sebagai pemilik dari benda yang akan disumbangkan, dan bahwa dia mempunyai hak untuk memanfaatkan benda terse­but. Dan selama hak mewarisi tubuh si mayit tidak dimiliki oleh para ahli waris, maka hak pemanfaatan tubuh si mayit lebih-lebih lagi tidak dimiliki oleh selain ahli waris, bagaimanapun juga posisi atau status mereka. Karena itu, seorang dokter atau seorang penguasa tidak berhak memanfaat­kan salah satu organ tubuh seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan­nya. Adapun hukum kehormatan mayat dan penganiayaan terha­dapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat mempun­yai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah mengharamkan pelanggaran terha­dap kehormatan mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehor­matan orang hidup. Allah menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya dengan menganiaya orang hidup.  Diriwayatkan dari A’isyah Ummul Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Menurut Hukum

Saat ini dunia makin materialistis, sehingga apapun bisa diperdagangkan, tidak terkecuali organ tubuh manusia. Di Indonesia, diperkirakan ada 70.000 penderita gagal ginjal kronis yang membutuhkan cangkok ginjal. Jumlah pasien itu tidak sebanding dengan jumlah donor yang merelakan organnya dipakai orang lain setelah sang donor meninggal. Timpangnya jumlah permintaan organ tubuh dibandingkan dengan jumlah pasien inilah yang kemudian menyuburkan praktek illegal jual-beli organ tubuh manusia. Di dalam KUHP, tidak ada satu pasal pun yang dapat menjadi payung hukum yang menjelaskan secara detail mengenai tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia sehingga menyebabkan kesulitan dalam menindak kasus-kasus perdagangan organ tubuh manusia yang terjadi. Adapun permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah perspektif penegakan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, penegakan hukum terhadap tindak pidana perdagangan organ tubuh belum sesuai dengan yang diharapkan karena baik di dalam KUHP, UU. No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan maupun di dalam RKUHP tahun 2004, tidak ada satu pasal pun yang formulasi isi pasalnya memberikan karakteristik mengenai tindakan apa saja yang dikategorikan sebagai praktek jual-beli organ tubuh manusia. Di KUHP sendiri yang tidak mengatur mengenai tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia, pelaku dapat dikenakan Pasal 359 KUHP, Pasal 360 ayat (1) KUHP, dan Pasal 362 KUHP. Di dalam UU. No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pelaku tindak pidana perdagangan organ tubuh dapat dikenai Pasal 33, Pasal 34, dan Pasal 80 ayat (3). RKUHP tahun 2004 yang belum disahkan sampai sekarang pelaku tindak pidana perdagangan organ tubuh dapat dikenai Pasal 394 RKUHP tentang transplantasi organ tubuh.
Saran yang dapat diberikan penulis adalah faktor-faktor yang menjadi kendala didalam hukum pidana yaitu rumusan pasal-pasal yang bisa diterapkan terhadap pelaku tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia jangan terlalu universal, perlu adanya pengaturan secara khusus dalam undang-undang khususnya untuk Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) harus ada batasan pengertian, hakikat, dan ruang lingkup tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia sehingga tidak menjadi bias di dalam penerapannya. Terhadap kebijakan transplantasi organ tubuh manusia ke depannya dapat lebih diperjelas lagi yaitu dengan adanya suatu undang-undang khusus mengenai transplantasi organ yang formulasi pasalnya telah mengikuti standar internasional sehingga dapat menjaring semua perbuatan yang dikategorikan dalam tindak pidana perdagangan organ tubuh manusia.

Dari segi hukum ,transplantasi organ,jaringan dan sel tubuh dipandang sebagai suatu hal yang mulia dalam upaya menyehatkan dan mensejahterakan manusia,walaupun ini adalah suatu perbuatan yang melawan hukum pdana yaitu tindak pidana penganiayaan.tetapi mendapat pengecualian hukuman,maka perbuatan tersebut tidak lagi diancam pidana,dan dapat dibenarkan.

Dalam PP No.18 tahun 1981 tentana bedah mayat klinis, beda mayat anatomis dan transplantasi alat serta jaringan tubuh manusia tercantum pasal tentang transplantasi sebagai berikut:

Pasal 1.
c. Alat tubuh manusia adalah kumpulan jaringan-jaringa tubuh yang dibentuk oleh beberapa jenis sel dan mempunyai bentuk serta faal (fungsi) tertentu untuk tubuh tersebut.

d. Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mmempunyai bentuk dan faal (fungsi)yang sama dan tertentu.

e. Transplantasi adalah rangkaian tindakan kedokteran untuk pemindahan dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk menggantikan alat dan atau jaringan tubuh ynag tidak berfungsi dengan baik.
f. Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya kepada orang lain untuk keperluan kesehatan.

g. Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak,pernafasan,dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti.

Ayat g mengenai definisi meninggal dunia kurang jelas,maka IDI dalam seminar nasionalnya mencetuskan fatwa tentang masalah mati yaitu bahwa seseorang dikatakan mati bila fungsi spontan pernafasan da jantung telah berhenti secara pasti atau irreversible,atau terbukti telah terjadi kematian batang otak.

Pasal 10.
Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia dilaukan dengan memperhatikan ketentuan yaitu persetujuan harus tertulis penderita atau keluarga terdekat setelah penderita meninggal dunia.

Pasal 11
1.Transplantasi organ dan jaringan tubuh hanya boleh dilakukan oleh dokter yang ditunjukolehmentri kesehatan.
2.Transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan oleh dokter yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan
Pasal 12
Penentuan saat mati ditentukan oleh 2 orang dokter yang tudak ada sangkut paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi.

Pasal 13
Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksudkan yaitu dibuat diatas kertas materai dengan 2(dua) orang saksi.

Pasal 14
Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia,dilakukan dengan persetujuan tertulis dengan keluarga terdekat.

Pasal 15
1.Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia diberikan oleh donor hidup,calon donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh dokter yang merawatnya,termasuk dokter konsultan mengenai operasi,akibat-akibatya,dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
2.Dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus yakin benar ,bahwa calon donor yang bersangkutan telah meyadari sepenuhnya arti dari pemberitahuan tersebut.

Pasal 16
Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak dalam kompensasi material apapun sebagai imbalan transplantasi.

Pasal 17
Dilarang memperjual belikan alat atau jaringan tubuh manusia.
Pasal 18
Dilarang mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dan semua bentuk ke dan dari luar negeri.

Menurut Kesehatan.

Jika semuanya sesuai, orang hidup dapat mendonorkan ginjalnya. Secara historis, kebanyakan pendonor hidup adalah saudara. Yang lebih baru lagi bahkan ginjal dari pendonor yang mempunyai (hubungan emosional atau teman dekat) telah ditransplantasikan. Ini merupakan akibat dari pendonor dari organ cavaderik (mayat) dan pemajuan terakhir hasil imunosupresif. Potensi terbesar terhadap keberhasilan transplant ada, bila pendonor dan resipien memiliki antigen yang identik yang diwariskan oleh orangtuanya. Antigen identik yang diwariskan cocok dua haplotype,hanya terjadi pada sibling. Kecocokan lain yang mungkin termasuk satu haplotype, dimana setengah dari antigen pendonor dan resipien identical, tak ada antigen yang cocok dimana tidak ada persamaan haplotype atau antigen.

Manakala donor hidup potensial teridentifikasi, semua evaluasi medik dilakukan untuk menentukan bahwa donor bebas dari penyakit yang mendasari, mempunyai dua ginjal dan pendonoran dapat dilakukan tanpa adanya kerugian bagi kesejahteraan donor. Manakala evaluasi ini telah diselesaikan dengan berhasil, transplantasi donor hidup dapat dilakukan. Tranfusi donor spesifik ( TDS) adalah teknik pengubahan responsifitas imun dalam situasi donor hidup. Teknik ini meliputi mentranfusi darah dari donor hidup potensial terhaddap resipien satu sampai tiga kali sebelum tranplantasi ginjal. Tranfusi donor spesifik diduga meningkatkan survival tandur melalui (1) mengidentifikasi resipien yang akan bereaksi sangat kuat terhadap antigen donor sebelum transplantasi sesungguhnya; dan (2) mempengaruhi penerimaan jaringan donor, kemungkinan dengan peangsangan perkembangan sel T supresor. Resiko dalam melakukan TDS sebelum transplantasi adalah resipien akan mengalami sensitisasi (spt.,akan berkembang antibodi) terhadap donor potensial, sehingga menyingkirkan orang tersebut untuk menjadi donor. Bila tidak terjadi sensitisasi dan transplant dilakukan, tandur yang survival 1 tahun dalam donor hidup cocok satu –haplotype dan resipien melebihi 90 % .

Donor cadaveric (mayat)

Meskipun ada peningkatan frekwensi transplantasi dari donor hidup, namun suplai organ tidak memenuhi kebutuhan. Secara nyata ada ketidaksesuaian antara jumlah potensial dengan organ donor yang nyata. Alasan lain untuk kurangnya donor adalah bahwa profesi kesehatan sering tidak menginformasikan keluarga potensial donor tentang pilihan pendonoran. Kurangnya pengetahuan tentang pendonoran dan bagaimana mendiskusikan pendonoran dengan keluarga sering disebut sebagai alasan untuk tidak mengungkapkan ini kepada keluarga. Sebagai akibat, diterapkan legislasi permintaan rutin. Legislasi ini mewajibkan bahwa keluarga dari donor organ potensial yang tepat diberi kesempatan untuk mendonorkan organ. Dalam upaya menurunkan keengganan untuk mendiskusikan pendonoran dengan keluarga, beberapa pensehat hukum juga memerlukan pelatihan bagi mereka yang dalam posisi mewakili tentang pilihan pendonoran